Air Asia

Incredible India

INDIA-Taj Mahal

INCREDIBLE INDIA

Catatan singkat hasil survey (sementara) untuk saya sendiri & teman-teman LM yang ingin #LiburanMurah ke India, baik dari hotel murah, transportasi, maupun tiket pesawat domestik murah di India..

HOTEL MURAH di India

Sudah beberapa bulan ini dalam waktu senggang saya coba baca berbagai review tentang berbagai hotel murah di India. Berikut catatan saya untuk hotel murah di kawasan Golden Triangle India (Delhi, Agra, dan Jaipur). Murah, tapi masih cukup nyaman untuk keluarga, dengan budget sekitar 200-600 ribu. Buat catatan (sementara) dahulu, nanti bisa ditambahkan lagi. Klik link masing-masing hotel untuk membaca review’nya 🙂

New Delhi

Hotel murah di New Delhi terdapat di sekitar backpacker area di Pahar Ganj, New Delhi. Lokasi walking distance dari stasiun kereta New Delhi.

* Grand Godwin Hotel

* City Star Hotel

* Ajanta Hotel

Agra

* Saniya Palace Hotel

* Kamal Hotel

Hotel murah dengan pemandangan roof top yang mengarah langsung ke Taj Mahal, Saniya Palace & Kamal Hotel ini terdapat di top review hotel baik di TripAdvisor maupun Lonely Planet, untuk pelancong dengan budget terbatas.

* Taj Resort Hotel

* Atulyaa Taj Hotel

Sedangkan untuk turis yang mempunyai budget lebih, Taj Resort & Atulyaa Taj bisa jadi pilihan untuk hotel kelas menengah.

Jaipur

* Pearl Palace Hotel

* Sunder Palace Hotel

Kedua hotel di atas, Pearl Palace & Sunder Palace merupakan pilihan untuk budget terbatas.

* Umaid Bhawan Hotel

* Pearl Palace Heritage Hotel

* Umaid Mahal Hotel

Sedangkan Umaid Bhawan, Pearl Palace Heritage & Umaid Mahal merupakan pilihan dengan budget lebih (hotel kelas menengah). Saran saya, karena ketiga hotel tersebut merupakan heritage hotel dengan ornamen heritage baik di interior maupun eksterior hotel yang khas India, dapat dipertimbangkan untuk mencoba menginap minimal 1 malam di salah satu hotel heritage tersebut.

TRANSPORTASI INDIA

Sewa mobil di India

Ada 3 rekomendasi yang saya dapatkan dari website TripAdvisor, yaitu:

* 4WD India

* India by Car & Driver

* Namaste India

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kita memakai jasa sewa mobil 4WD India. Review & alasan kenapa saya akhirnya memilih 4WD India akan saya ulas lebih lanjut nanti setelah trip India di bulan November 2014.

Website utk pesan tiket kereta

* www.makemytrip.com

* www.cleartrip.com

Website pesan bus

http://www.redbus.in

Kereta yg direkomendasikan

Thanks infonya dari bro Rio Indrawan
* Rajdhani Express
* Shabtadi Express
Info lebih lanjut tentang kereta di India bisa cek di http://www.seat61.com/India.htm

Pesawat Domestik India

Ada berbagai budget airlines, tapi kapanhari banyak teman yang merekomendasikan INDIGO, karena lebih on time, dengan harga terpaut sedikit dengan budget airlines di India lainnya.

Website yang sangat membantu untuk tanya-tanya tentang India

www.indiamike.com

Visa on Arrival India

  • Passport valid for at least 6 months and contains minimum two blank pages.
  • Two Passport size photographs
  • Photocopy of Passport
  • Return ticket

Bagaimana Air Asia Mengubah Hidupmu?

Dare To Share Air Asia

Bagaimana Air Asia Mengubah Hidupmu?

5 tahun bersama Air Asia! 2010-2014

Air Asia benar-benar mengubah hidup saya selama 5 tahun terakhir ini. Dari seorang arsitek yang cuma bisa melihat bangunan karya arsitek terkenal di buku, sampai melihat dengan mata kepala sendiri bangunan karya arsitek terkenal di Asia. Dari orang awam yang buta peta, sampai mempunyai cita-cita traveling bersama keluarga ke Nepal 🙂

Ada 5 alasan, sebagai berikut:

(1) Liburan Mandiri Pertama ke Luar Negeri – Awal Impian Keliling Dunia!

Saya cuma pernah 3x ke luar negeri dalam 10 tahun terakhir (2001-2010), itupun masih ikut tour & bisa dihitung jari. Pertama kali mengenal Air Asia tahun 2009, saya beranikan melakukan perjalanan mandiri booking 1 tahun sebelumnya ke Kuala Lumpur – April 2010. Maklum dapat tiket super murah, cuma 275 ribu nett pulang pergi, jadi nekat jalan sendiri.
Flashback 5 tahun bersama Air Asia, saya sudah mendapatkan tiket murah dari Surabaya pp (pulang pergi) ke:
(1) Kuala Lumpur – April 2010 – Rp. 275 ribu
(2) Bangkok – Januari 2011 – Rp. 750 ribu
(3) Hanoi – Maret 2011 – Rp. 800 ribu
(4) Hongkong – Maret 2012 Rp. 1,9 juta
(5) Ho Chi Minh – Oktober 2012 Rp. 1,5 juta
(6) Penang & Langkawi – Januari 2013 Rp. 1,2 juta
(7) Medan – Maret 2013 – Rp. 160 ribu dengan BIG Point Air Asia
(8) Beijing – April 2013 Rp. 2,7 juta
(9) Manila – Juni 2013 Rp. 1,3 juta
(10) Johor Bahru -Desember 2013 Rp. 1 juta
(11) Makassar – Mei 2014 – Rp. 100 ribu dengan BIG Point Air Asia
(12) Kolkata – November 2014 – Rp. 2,1 juta

Dari awalnya berlibur 3x dalam 10 tahun, sekarang menjadi 1 tahun 3x, tahun 2010-2014 sudah 12 kali trip dengan Air Asia. Beberapa tempat di atas seperti Halong Bay & Great Wall, semula cuma destinasi impian & sempat berpikir kapan bisa ke sana?

Thanks to Air Asia yang sudah mewujudkan impian saya. Saya punya keberanian mulai melakukan perjalanan mandiri tanpa ikut tour, googling “bagaimana cara menuju ke sana” sampai dengan kontak agent lokal. Cerita perjalanan lengkap beserta biaya & harga dapat dibaca di link kota/negara di atas. Dengan Air Asia saya dapat keliling benua Asia, separuh jalan menuju impian keliling dunia.

Saya juga sering menulis tips tentang tiket murah Air Asia di sini (link Air Asia)

Buku Ho Chi Minh

(2) Penulis Buku Traveling sampai dengan Kontributor WEGO

Karena Air Asia, saya dapat rutin bepergian ke luar negeri & sering menulis di blog. Sayang apabila cerita perjalanan saya tidak dimanfaatkan untuk membantu teman-teman lainnya. Hingga akhirnya Agustus 2011 saya mendapatkan tawaran menulis buku traveling. 2 buku sudah terbit, yaitu:

Wisata Hemat Hanoi dan sekitarnya

Wisata Hemat Ho Chi Minh dan sekitarnya

Sekarang ini saya juga menjadi salah satu penulis di #TravelOn WEGO, yaitu di: www.wego.co.id/berita/author/andykris
Woow, penulis buku traveling & kontributor tulisan di WEGO, siapa sangka, padahal kerjaan utama saya sebagai arsitek..

Pool Party Kopdar Liburan Murah 2014

(3) Komunitas Traveling: Liburan Murah Surabaya (LM)

Karena Air Asia, komunitas traveling di FB yang saya dirikan semakin berkembang, dari awalnya cuma ratusan anggota, hingga sekarang sudah lebih dari 25 ribu anggota. Kita sering sharing tentang cara mendapatkan tiket murah Air Asia, karena awalnya Air Asia merupakan salah satu pencetus penerbangan murah di Indonesia. Semakin sering traveling dengan Air Asia, pengetahuan saya & teman-teman tentang wisata sekitar Asia yang bisa dibagi juga semakin banyak.

Group FB Komunitas Liburan Murah (LM) ini sudah beberapa kali dimuat di media, antara lain:

SONY DSC

Siaran di Radio Suara Surabaya (SS) Maret 2014

Diliput Majalah CityMagz Surabaya Juni 2014

Dengan komunitas LM kita mendorong banyak teman yang sebelumnya belum berani jalan mandiri ke luar negeri, hingga akhirnya mereka berani pergi dengan menggunakan Air Asia atau budget airlines lain yang sekarang mulai banyak bermunculan. Air Asia bukan hanya mengubah hidup saya, tapi juga banyak member komunitas kita.

(4) Punya banyak teman!

Dan lebih dari itu, sekarang saya mempunyai ratusan bahkan ribuan teman yang punya hobi sama, traveling! Padahal dulu saya orangnya pendiam & pemalu. Liburan Murah ke luar negeri dengan perjalanan mandiri bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi saya..

SONY DSC

(5) Rutin Berlibur membentuk keluarga yang MANDIRI

Dari awal menikah sampai punya 2 anak, saya selalu mengandalkan Air Asia sebagai alternatif utama transportasi liburan bersama keluarga. Harga terjangkau ditambah dengan berbagai promo, apalagi sekarang saya harus membeli 4 tiket untuk berlibur 🙂 Kami juga ingin supaya anak bisa melihat dunia luar secara nyata seperti misalnya legenda danau Toba, tidak hanya dari buku sekolah, dan mendapatkan berbagai pengetahuan tentang cara hidup & budaya masyarakat di dalam & luar negeri.

Dengan mental traveler, anak saya menjadi lebih mandiri. Hal tersebut kita latih secara tidak langsung dalam perjalanan traveling. Mereka berlatih sabar menunggu pesawat boarding & menunggu lama di dalam mobil waktu perjalanan antar kota (misalnya perjalanan Makassar ke Tanjung Bira & Hanoi ke Halong Bay). Anak kita juga terbiasa dengan semua hal. Mulai dari menginap di hotel mewah, sampai dengan budget hotel kesayangan keluarga kita, Tune Hotels!

Keluarga Tune Hotels Family
Mulai dari makan di restaurant, sampai dengan makan di warung. Semuanya kita jalani dalam traveling, jadi mereka bisa merasakan & mengetahui, tidak pilah-pilih, dan tetap enjoy meskipun pilihan tersebut kurang nyaman. Ada kalanya kita benar-benar berlibur, bersantai di hotel berbintang, makan di restaurant, tapi ada waktunya kita traveling, mencoba cara hidup & budaya masyarakat lokal. Apapun pilihannya kita tetap have fun!

Selain bersama anak, terkadang kita juga mengajak ortu & mertua, jadi total pergi berdelapan. Meskipun orang tua kita berdua membayar sendiri, mereka sangat terbantu karena tiket Air Asia yang murah.

Jadi kalau ditanyakan lagi kepada saya apakah Air Asia mengubah hidup seseorang? Saya akan menjawab dengan tegas: Pasti SAYAlah orang yang tepat!

SONY DSC

Mimpi melihat atap dunia: Nepal!

Setelah cukup banyak traveling sekitar Asia, Nepal menjadi salah satu destinasi impian yang masuk dalam list “place to go”. Karena itu, begitu mendengar lomba blog Air Asia berhadiah trip ke Nepal, saya langsung semangat ’45 menulis posting ini, apalagi tema tulisan sangat cocok & mengena dengan kehidupan saya selama 5 tahun terakhir ini.

Poon Hill, here I come?

Media Liburan Murah

Facebook Pribadi
Facebook Page: 2.178 likes
Facebook Group: 25.777 members
Twitter: 1.904 followers
Instagram
Wego

Air Terjun Sipiso-piso

Ikut Tour atau Backpacker Pejalan Mandiri?

SONY DSC

Ikut Tour atau Backpacker Pejalan Mandiri ?

Selain hidup saya yang berubah 180 derajat dalam 5 tahun terakhir ini, dengan mengenal Air Asia saya dapat belajar banyak dari pengalaman baru backpacking secara mandiri, dan termasuk faktor penting yang merubah hidup saya menjadi lebih berani.

5 tahun yang lalu saya orangnya sedikit tertutup, pemalu bahkan pendiam. Sebelumnya saya cuma 3x ke luar negeri dalam 10 tahun terakhir dengan ikut tour, meskipun biaya tour cukup mahal & harus ditabung beberapa tahun, karena ketakutan saya untuk melakukan perjalanan mandiri ke luar negeri. Takut nyasar, takut tidak bisa berbicara dengan penduduk lokal, takut ditipu, takut ini, takut itu dan masih banyak lagi.

Berkat dorongan Air Asia, terutama tergiur dengan tiket murahnya yang menjadikan saya nekat, merubah ketakutan saya dan berani mencoba hal baru, backpacking! Apabila kita ke luar negeri, tiket pesawat merupakan pengeluaran terbesar, setelah itu baru hotel. Jadi kita terbantu banyak dengan tiket murah Air Asia, bisa sering traveling 2-3x dalam setahun 🙂

Modal bahasa Inggris pas-pasan, tapi buktinya sampai dengan sekarang sudah lebih dari 10x perjalanan mandiri dengan Air Asia, dan semua itinerary saya lancar tanpa ada hambatan berarti. Saya tidak lagi takut berbicara dengan orang asing, dan mendapatkan berbagai pengalaman seru seperti misalnya hampir ketinggalan kereta di Beijing, tersesat ketinggalan rombongan di Shanghai, kena scam supir taxi di Manila. Berbagai pengalaman seru, lucu & unik tersebut tidak membuat saya kapok, justru membuat saya semakin pengalaman & ketagihan untuk traveling, lagi, lagi, dan lagi…

Dengan jalan mandiri kita bisa lebih berdisiplin mengatur waktu, mengenal budaya & cara hidup penduduk lokal, melatih kewaspadaan kita terhadap orang yang berniat jahat, sampai dengan bertemu banyak orang baik yang membantu kita, di semua negara Asia yang pernah kita datangi.

Selain itu dengan mulai merencanakan perjalanan mandiri saya dapat belajar untuk:
* mengetahui lokasi strategis maupun lokasi yang cukup rawan di tiap kota yang akan kita datangi, baik untuk menginap, transportasi dan lainnya.
* mengetahui berbagai tempat wisata di setiap kota/negara
* mengenal & mencoba berbagai moda & rute transportasi di tiap negara.
* sampai dengan merasakan sendiri makanan khas di tiap negara Asia yang pernah saya kunjungi.

Pengalaman yang berharga & merubah hidup saya, yang tentunya tidak akan saya dapatkan apabila ikut tour.

Dan sekarang traveling menjadi salah satu penyemangat dalam hidup saya. Apabila lagi capek kerjaan, tinggal mengingat momen traveling sebelumnya, atau iseng mengatur rencana perjalanan untuk agenda traveling berikutnya, langsung hidup rasanya jadi lebih hidup, SEMANGAT langsung muncul kembali! 🙂

Backpacker Vietnam Trip

Mungkin beberapa teman (yang menanyakan di message) masih ragu jalan sendiri tanpa ikut tour ke luar negeri. Tetapi bukankah sekarang lebih mudah, untuk kita bepergian ke luar negeri? Hotel sudah bisa dipesan online, demikian juga pesawat. Sudah ada berbagai pilihan penerbangan murah dari berbagai maskapai. Informasi tentang tempat wisata / kota dapat diperoleh dengan mudah di Google / Yahoo. Kecuali mungkin kalau kita traveling ke China, karena keterbatasan bahasa terpaksa di sebagian tempat kita bisa mengambil tour harian di China.

Berikut pandangan saya pribadi tentang gaya traveling seseorang, baik itu ikut tour maupun melakukan perjalanan mandiri, mungkin bisa berguna bagi teman-teman traveler lainnya, apa untung ruginya liburan ikut tour atau backpacker jalan mandiri.

Ikut Tour

*(1) Penginapan, transportasi yang nyaman, & makanan yang enak (standart restaurant) tetapi juga tentunya ada harga yang harus dibayar 🙂

*(2) Tidak perlu repot mengurusi segala sesuatu

*(3) Harus ikut jadwal / schedule tour. Padahal belum tentu tempat yang ingin kita tuju ada di jadwal tour tersebut. Bisa saja kita meminta private tour, tapi dengan harga yang lebih mahal tentunya.

*(4) Cerita perjalanan yang sesuai dengan jadwal tour, mungkin semua orang yang ikut tour tersebut mempunyai cerita perjalanan yang sama 🙂

Backpacker / Jalan Mandiri

*(1) Penginapan dan transport terserah kita, mulai dari biaya yang murah sampai dengan mahal. Untuk makanan, terus terang saya lebih senang apabila jalan sendiri, karena kita dapat mencoba berbagai street food (makanan khas) dari suatu daerah, dengan harga yang jauh lebih murah dari standart resto & rasa yang lebih autentik. Misalnya saja seperti di kota saya di Surabaya, harga lontong balap atau semanggi di pinggir jalan, tentu beda dengan makanan sejenis yang dijual di restaurant / hotel. Tapi soal rasa? Lebih autentik makanan street food.

*(2) Harus repot mengurus segala sesuatu’nya..

*(3) Bebas menentukan schedule / jadwal liburan kita sendiri, mau santai atau mau jadwal perjalanan yang full schedule. Dan juga bebas menentukan tempat mana saja yang akan kita tuju.

*(4) Lebih banyak pengalaman yang bisa disharing, lebih banyak cerita (for bad & good), dan bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Dengan jalan sendiri kita lebih bisa mengenal suatu daerah, karena sebelum pergi tentunya kita sudah searching dahulu informasi tentang daerah yang akan kita tuju. Dan setelah tiba disana, meskipun awalnya tidak terlalu mulus & mungkin sedikit kesasar di suatu daerah, tapi dijamin nantinya apabila kita pergi untuk kedua kalinya pasti lebih mengenal daerah tersebut!

Kapan kita IKUT TOUR, dan kapan kita JALAN MANDIRI ?

Tergantung lokasi / daerah yang dituju. Apakah negara yang kita tuju sudah mempunyai sarana transportasi yang baik dan kendala bahasa. Kalau daerah tersebut sudah mempunyai sarana transportasi yang baik & tidak ada kendala bahasa yang berarti, tentunya lebih enak jalan sendiri.. 🙂

BACKPACKER: more stories to tell! 😛

Apabila anda ingin bepergian dengan backpacking, mungkin bisa memperhitungkan 4 kriteria di bawah:

BIAYA 4 H.E.A.T. (Hotel . Eat . Attraction . Transportation)

HOTEL: where to stay, akan menginap di mana?

EAT: where to eat, mau makan di mana, resto / street food / makan pinggir jalan?

ATTRACTION: sightseeing, tempat wisata yang ingin dituju, bisa bebas menentukan pilihan sendiri..

TRANSPORTATION: cari informasi transportasi massal di tempat tujuan, apakah sudah tersedia atau belum..

Semua info tersebut umumnya dapat dengan mudah kita searching di google, semua pilihan traveling dapat kita tentukan dengan BEBAS! Mau menghemat biaya, atau mau memanjakan diri, semua tergantung pilihan kita 🙂

Dream to Shangrila

Mengunjungi Negeri Kepulauan Tetangga

Mengunjungi Negeri Kepulauan Tetangga

Beberapa hari yang lalu member grup liburan murah banyak disibukkan dengan promo penerbangan murah dari negri tetangga kita Filipina, Si Juan, yang bisa membawa kita mengeksplorasi keindahan alam yang masuk menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru, Puerto Princessa. Saya belum sempat menginjakkan kaki kesana, namun sempat mengunjungi ibukota Filipina dan kota pendukungnya. Jika Anda penasaran dengan bagaimana keadaan di Filipina? setidaknya saya bisa gambarkan sedikit keadaan ibukotanya. Manila merupakan kota tua yang penuh dengan peninggalan bangunan koloni Spanyol yang anggun dengan tata kota yang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, walau dalam beberapa hal lebih semrawut dari Jakarta namun juga ada yang lebih baik seperti fasilitas publik. Untuk yang mencari suasana modern dan dinamis bisa menuju ke Makati City yang serba teratur dan rapi seperti kawasan Sudirman dan Orchard. Sementara menunggu testimonial dari kawan-kawan Liburan Murah yang pergi ke Puerto Princessa, mungkin bisa dibaca dulu pengalaman weekend saya di sekitar Metro Manila …

http://adreeanto.blogspot.com/2012/07/mabuhay-philippines-part-ii.html

http://adreeanto.blogspot.com/2012/07/mabuhay-philippines-part-i.html

Tempat Wisata Filipina-Philippines

Tempat Wisata Filipina-Philippines

Yihaaa, akhirnya kesampaian ke Filipina juga!

Berawal dari promosi FREE SEAT Air Asia di bulan September 2012 ini, akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket pesawat murah ke Clark (dekat Manila), Filipina. Harga tiket tidak semurah seperti yang saya dapatkan di beberapa kali promosi Air Asia sebelumnya, tetapi masih lebih murah daripada beberapa maskapai penerbangan lainnya.

Kenapa memilih berlibur ke Filipina?

Karena selain biaya hidup di Filipina yang masih tergolong cukup murah, juga karena terdapat beberapa wisata historis di Manila, Filipina yang membuat saya tertarik pergi ke sana. Misalnya saja gereja di Manila yang kebanyakan merupakan peninggalan jajahan Spanyol, dan juga penduduk di Filipina yang merupakan salah satu negara dengan banyak penganut Katolik Roma yang kuat. Filipina ini juga dikenal sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mempunyai pengaruh budaya Barat yang kuat.

Selain itu masih ada satu lagi yang membuat saya tertarik pergi ke Filipina, yaitu Puerto Princesa! Salah satu daerah di pulau Palawan, Filipina, yang mempunyai tempat wisata alam yang sekarang sudah terkenal di dunia, yaitu underground river / sungai bawah tanah. Underground River ini sudah menjadi salah satu UNESCO World Heritage, dan belum lama ini juga menjadi salah satu finalis dari NEW7Wonders of Nature.

Jadwal penerbangan yang saya dapatkan juga pas dengan liburan anak sekolah, yaitu di bulan Juni 2013. Mantapp daah, bisa berlibur bareng dengan keluarga lagi, setelah jadwal terakhir kita ke Hongkong dan Penang (masih di Januari 2013).. 🙂

SEKILAS INFO TENTANG FILIPINA

Transportasi di Manila dan sekitarnya:

http://www.thelostboylloyd.com/2012/03/how-to-commute-to-clark-airport.html

http://www.thelostboylloyd.com/2012/04/airasia-philippines-free-shuttle-bus.html

http://www.airasia.com/my/en/travelinfo/destinationguide/CRK_transport.html

http://www.metromaniladirections.com/2010/04/makati-transportation-map-jeepney-bus.html

http://www.metromaniladirections.com/2011/06/how-to-ride-jeepney.html

Rute Liburan Murah ke Filipina:

Top Travel Blog di Filipina:

Day Tour di Palawan dan sekitarnya:

Info tentang Filipina di Kaskus:

http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15217755

Sumber Foto: Wikipedia.org

Berbagai Tips Cara dapat tiket murah Air Asia

*TIPS Cara Dapat Tiket Pesawat Murah*

Cara Dapat Tiket Murah Air Asia

Berikut beberapa tips cara mendapatkan tiket pesawat murah untuk sebagian member baru di group Liburan Murah (dan juga pembaca blog LibMur yang belum pernah cari tiket murah), baik dari penerbangan favorit kita semua Air Asia, maupun dari budget airlines lainnya, seperti JetStar, Tiger Airways, maupun budget airlines dari Filipina yang sekarang ini lagi banyak diminati oleh para “pencari” tiket murah, yaitu Cebu Pacific Air..

  • Subscribe / langganan email dari budget airlines. Misalnya seperti Air Asia, jadi kita bisa tau info promosi dari Air Asia yang terbaru. Dan sebagian besar penerbangan murah tersebut sudah mempunyai Twitter dan Facebook. Untuk Air Asia bisa like di facebook AirAsiaIndonesia..
  • Booking tiket pas penerbangan perdana, biasanya harga pertama kali terbang paling murah (seperti penerbangan saya Surabaya-Bangkok)
  • Booking pas promo free seat (tiket 0 rupiah), biasanya setiap bulan Mei dan September (khusus untuk Air Asia).  Dalam bulan lalu Cebu Pacific juga mengadakan promo harga tiket murah, mulai dari 1 Peso Filipina (setara dengan 200 rupiah lebih sedikit). Sudah 3 tahun ini saya selalu dapet tiket promo termurah dari Air Asia ya pas bulan Mei ini, hehehe 🙂
  • Waktu booking free seat ini, sebisa mungkin anda langsung book tepat setelah jam free seat dimulai. Jadi misalnya Air Asia mengadakan promo pada tanggal 18 September tepat jam 12 malam, kalau bisa jam 12 malam lebih 1 detik anda sudah start melakukan proses booking.. 🙂 Apabila menunggu s/d besok pagi, kemungkinan ketersediaan free seat sudah semakin terbatas..
  • Untuk booking free seat, biasanya orang akan booking pada waktu hari libur atau weekend. Apabila tidak ada, bisa cari alternatif pada hari kerja, dijamin lebih banyak free seat yang tersedia!
  • Bagasi & makanan pada penerbangan murah / budget airlines biasanya terpisah, kita harus beli sendiri. Usahakan cari penerbangan yang tidak melewati jam makan (mungkin nggak ya?) sehingga kita tidak perlu membeli makanan lagi di dalam pesawat yang harganya cukup mahal.
  • Sedangkan untuk bagasi, sekarang ini sudah mulai banyak traveler yang pergi hanya dengan membawa backpack, atau disebut juga backpacker. Jadi dengan modal ransel/backpack yang bisa masuk ke dalam kabin pesawat, kita tidak perlu lagi untuk membeli bagasi. Bisa menghemat sampai dengan ratusan ribu lhoo, apalagi kalo flight kita connecting, misalnya Surabaya ke Kuala Lumpur, kemudian lanjut Kuala Lumpur ke Hongkong..
  • Untuk penerbangan dalam negeri atau yang berangkat dari Indonesia, bisa memakai klikBCA (untuk Air Asia) sehingga tidak terkena biaya kartu kredit.
  • Air Asia juga sudah membuat catatan, supaya kita lebih cepat dalam proses booking, yang biasanya harus menunggu berjam-jam karena banyaknya orang yang mengakses website AirAsia dalam waktu yang bersamaan pada saat promosi Free Seat. Coba baca di Facebook Notes AirAsia, dan anda akan mendapatkan tips untuk mendaftarkan list teman/keluarga yang akan ikut bepergian, dan juga bisa daftar kartu kredit anda terlebih dahulu, untuk mempercepat proses pembayaran nantinya..

Trus apa lagi yaa? Sementara ini dulu, nanti kalo ada informasi lagi akan saya tambahkan di posting ini. Semoga dengan posting “Cara Dapat Tiket Murah Air Asia” ini bisa membantu teman-teman Liburan Murah.. 🙂

Perjalanan di Kota Seribu Wat

Perjalanan di Kota Seribu WatPerjalanan di Kota Seribu Wat

Kali ini Saya bertiga dengan Sudar dan Fandy melancong ke Kota Seribu Wat, ya Wat dengan satu T bukan dua! Wat berarti kuil dalam bahasa Thai. Perjalanan kali ini juga hasil dari perburuan tiket murah dari salah satu low cost carrier favorit kami. Kami tiba di Bangkok pukul setengah 8 malam setelah menempuh sekitar empat jam penerbangan. Suvarnabhumi merupakan salah satu airport megah di Asia Tenggara, arsitektur megah dan tata ruang yang efisien menurut pendapat saya pertama kali mendarat disana. Kami bertiga langsung tidak membuang waktu dan mencari bus bandara yang menuju ke arah hotel kami menginap. Menunggu sekitar 20 menit, bus yang ditunggu pun tiba dan berangkat setelah menunggu sekitar 10 menit. Saya duduk di kursi depan sehingga dapat menyaksikan keadaan jalan di Bangkok pada malam hari, dari situ terlihat bahwa sistem transportasi disana cukup rapi dan kompleks. Jalan layang dan bebas hambatan bertumpuk dan bersilangan dengan jalur skytrain, walau sempat terjebak kemacetan tapi terlihat bahwa pengemudi disana jauh lebih tertib dan tidak berusaha menyalip melalui jalur yang tidak seharusnya. Setelah perjalanan selama empat puluh lima menit, bus kami tiba ditujuan akhir, ya hotel kami terletak di akhir rute bus ini, di kawasan backpackernya Bangkok.

Khao San Road memang terkenal sebagai kawasan jujukan para backpacker, suasananya mirip dengan keadaan di Poppies, Kuta , banyak pedagang sepanjang jalan, pub, café dan penjaja makanan bertebaran sepanjang jalan. Satu yang harus diingat bahwa kota ini anjing bertebaran dimana-mana, jauh lebih banyak dari populasi kucing jalanan. Apabila kebetulan berjalan-jalan di malam hari, terutama hari pertama dan mencari hotel melalui jalanan sepi, selalu lihat kebawah kalau tidak ingin kena jackpot seperti Fandy yang menginjak tahi anjing! Kawasan ini hidup hampir 24 jam, meski beberapa toko dan pedagang berhenti berjualan sejak pukul 11 keatas. Namun beberapa kedai makanan akan tetap buka hingga pelanggan terakhir selesai menikmati hidangan yang dipesan, tidak lupa banyaknya 7eleven bertebaran dikawasan ini menjamin Anda tidak akan kelaparan atau kebingungan jika hendak menghabiskan malam di Bangkok.

 Ketika kami bertiga selesai mandi, kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama di jalanan Khao San dan mencoba menikmati semua yang ditawarkan disini. Sudar yang sudah tak sabar mencoba Pad Thai, akhirnya memesan sepiring pad thai egg with pork, mirip Kwetiau tapi jika memilih pork pasti agak kaget dengan rasa dagingnya yang cenderung asam. Kemudian aneka barbeque, ada ikan, ayam, cumi, babi dan lain-lain yang ditusuk dengan lidi dan dipanggang setelah kita pesan disertai saus asam pedas. Ada pula jajanan yang mirip dengan martabak telor namun lebih kenyal dan cenderung manis, ada yang berisi pisang coklat, nutela, telor dan lain-lain. Ditengah kawasan tersebut kami dikejutkan dengan pedagang aneka serangga goreng, mengingat kami berlibur kesini untuk merasakan hal-hal unik, maka kami memesan sekantong serangga goreng campur. Selain serangga, ternyata ada juga kodok kecil yang digoreng utuh! Masing-masing kita coba dan berusaha untuk tidak muntah … hmm . . . ternyata rasanya seperti krupuk, kecuali ulat bambu yang teksturnya lebih berisi dan agak kesat seperti ayam. Sebagai penutup kami mencoba bir singha dan semangkuk tom yum seafood serta thai salad.


Paginya saya merasa membutuhkan bantuan yoghurt untuk mengatasi sembelit, problem langganan saat bepergian ke tempat asing. Ketika menuju 7eleven terdekat terlihat sekawanan bule mabuk yang berusaha merayu gadis didalam toko, Khao San banget! maka saya putuskan menuju ke 7eleven lainnya. Setelah itu kami segera beranjak menuju ke Grand Palace, berbekal dengan peta gratis dari bandara. Walau jarak dipeta tidak begitu jauh namun karena kami bertiga buta arah, maka perjalanan sempat terhambat karena kebingungan melihat nama jalanan yang didominasi aksara thai, sering disebut hanacaraka oleh Sudar. Sepanjang jalan kami melihat berbagai kegiatan warga disana, ada yang menjual lotre, aneka barbeque, dan beberapa dagangan lain, namun anehnya semua didominasi warna merah. Saya curiga apakah ini berkaitan dengan kampanye kaus merah yang sempat menimbulkan kerusuhan beberapa waktu lalu, namun hal ini terlupakan begitu kami tiba di Wat Ratchanadda yang begitu megah, namun sedang dalam pemugaran. Sambil mencari jalan menuju ke Grand Palace, kami sempatkan untuk mampir ke kuil yang berada disepanjang jalan untuk mengambil foto. Rupanya saat ini sedang berlangsung ritual atau upacara kematian karena kami melihat banyak orang berdoa dan rangkaian bunga disekitar kuil atau wat. Kejadian lucu terjadi saat melewati gang di sebuah kuil kami, terutama saya diteriaki sekelompok pria berseragam. Duh! Kenapa lagi nih? Aku salah apa? Pikirku. Ternyata topi yang saya bawa terjatuh dan mereka bermaksud mengingatkan … fiuh … kirain salah apa lagi, secara mereka berseragam dan langsung berteriak dengan bahasa yang tidak dimengerti sambil menunjuk-nunjuk kearah saya hahahaha . . .

Ternyata perjalanan ke Grand Palace yang menurut peta tidak terlalu jauh dari hotel jadi jauh karena kami yang buta peta dan melenceng dari jalur yang seharusnya. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah taman kota yang bisa dikenali lokasinya dengan mencocokan aksara thai dengan yang ada di peta. Mirip teknik tebak 10 perbedaan, hanya saja kita berusaha mencari persamaan aksara di pintu taman dengan aksara di peta lokasi dugaan kita. Ternyata kami berada di Rommaneenat Park, dan kami gunakan untuk mengistirahatkan kaki dan meminta bantuan GPS agar dapat menunjukkan rute yang benar ke Grand Palace. Setelah melepas lelah dan menemukan arah tujuan. Kami beranjak dan sampai ke perempatan besar dimana

kami dapat melihat kompleks istana dan Wat Pho diseberang jalan. Saya yang terlihat memegang peta langsung dihampiri seseorang yang berbasa-basi dan berkali-kali mengatakan “lucky tourist” pada kami. Saya yang tertahan dengan seorang yang ternyata sopir tuk-tuk ditinggal oleh Sudar dan Fandy yang asyik menyaksikan segerombolan tupai berlompatan di Pohon besar di Saranrom Park. Lepas sopir tuk-tuk, seseorang disana menghampiri kami yang terlihat kebingungan sambil memberikan saran tempat-tempat yang harus kami kunjungi di Bangkok dan memberi tahu bahwa Grand Palace baru buka pukul setengah satu karena ada perayaan Buddha hari ini. Ternyata dia adalah seorang tentara yang sedang tidak bertugas, dan sedang menunggu anaknya yang akan mengikuti jejaknya masuk ke militer. Dari orang ini pula kami mengetahui bahwa hari itu adalah hari besar Buddha yang artinya semua tiket masuk ke kuil gratis! Kami beruntung katanya, setelah memberikan saran tempat-tempat dan transport yang harus kami ambil sambil mengajarkan “Sam Sip Baht” atau 30 baht untuk berkeliling dengan tuk-tuk ke lima lokasi secara beruntun. Dia akhirnya iba dan menawar sopir tuk-tuk yang berbasa-basi dengan saya sambil memperkenalkan bahwa kami adalah temannya sehingga si sopir mau saja ditawar dari 100 baht ke 30 baht!


Perjalanan menggunakan tuk-tuk merupakan pengalaman menarik, karena selain kendaraan ini khas Thailand, cara mengemudi yang mirip bajaj di Jakarta merupakan hiburan tersendiri. Perhentian pertama adalah ke Sitting Buddha, yang merupakan kuil kecil. Disini Sudar sempat mendapat malu karena seperti biasa insting narsis mengarahkannya untuk berfoto sedekat mungkin dengan patung Buddha duduk di platform yang agak tinggi dan ternyata merupakan tempat duduk para biksu setelah kami ketahui dari sang pengurus kuil yang ramah. Rupanya dengan tarif semurah itu sang sopir berusaha menawarkan rute tambahan ke toko-toko permata untuk mendapatkan voucher bbm gratis. Awalnya kami tidak keberatan, toh selain

untuk cuci mata, kami membantu sang sopir mendapatkan bensin gratis. Namun setelah diantar ke toko ketiga, kami mulai agak terganggu karena kali ini kami diharuskan berkeliling selama kurang lebih 10 menit di toko kain yang tidak begitu besar dan ketika kami keluar untuk membeli makanan … eh, malah disemprot! Jadilah kami sambil menggerutu menunggu didalam toko selama 10 menit dan begitu keluar kami minta diantarkan ke Marble Temple.

Marble Temple atau nama aslinya Wat Benchamabophit, agak berbeda dari kuil kebanyakan disana yang cenderung berupa satu bangunan masif persegi. Sedangkan kuil ini terdiri dari sayap kiri dan sayap kanan simetris dengan bangunan utama menjulang tinggi dan semua dindingnya terbuat dari marmer. Puas menikmati

kuil ini kami segera beranjak ke gerbang keluar untuk mencari tuk-tuk kami yang akan mengantarkan ke Grand Palace karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sial! Ternyata tuk-tuk kami pergi begitu saja, mungkin karena dia jengkel di toko kain yang terakhir hampir tidak mendapatkan jatah voucher bbm atau juga karena tarif 30 baht tadi. Tidak ambil pusing kami berkeliling kompleks kuil untuk mencari bus stop dan bertanya pada orang lokal. Setelah sukses berbahsa tarzan, kami putuskan mencoba naik bus ke grand temple di bus stop tadi. Setelah naik ke bus yang berhenti dan bertanya pada kondektur, ternyata tujuannya bukan Grand Temple dan kami pun ditepikan oleh sang sopir di dekat bus stop lain sambil diberi petunjuk nomor bus dan arah jalan yang benar. Kami mencoba lagi mengikuti petunjuk tadi dan naik ke bus nomor 70 yang kebetulan sedang melintas. Begitu saya mendekati kondektur dan mengkonfirmasi tujuan Grand Palace dengan menggunakan gambar di peta,

Kondektur berkata “Long bat, long bat!”

“hah? Tanya Grand Palace kok jawabane Low Batt?” celetukku.

“Long Bat, Bat, Bat krukrawakakakukukukapap!” jelasnya lagi.

“Hmmm … wrong bus?” tebakku.

“Long Bat.” Kata kondektur sambil manggut-manggut.

“Oalah ternyata salah bus lagi!” kataku.

Kondektur mendekati sopir dan meminta bantuannya untuk mengetahui bus yang benar.

“Bat, Bat” sambil menunjuk nomor bus di kaca sang sopir mengarahkan telunjuk ke arah bus stop yang ada diseberang jalan.

Ada apa dengan huruf R dan S di thailand ya? pikirku. Saya artikan bahwa kami berada di nomor bus yang benar namun di arah yang salah untuk ke tujuan Grand Palace. Akhirnya bus menepi dan kami lagi-lagi diturunkan ditepi jalan. Kami pun menyebrang ke arah bus stop yang ditunjuk tadi namun tidak melihat nomor bus yang sama di papan bus stop. Saya dan Sudar sempat berdebat mengenai apakah bus yang benar akan melewati bus stop ini atau tidak, sedangkan Fandy mencoba menawarkan menggunakan taksi. Akan tetapi tidak berapa lama bus nomor 70 yang kami tunggu-tunggu tiba dan kami segera naik dan lega setelah dikonfirmasi kondektur bahwa ini bus dengan jurusan yang benar.


Setibanya di kawasan Grand Palace kami memutuskan mengisi perut terlebih dahulu. Disana kami mencoba kacang rebus yang gemuk-gemuk dan putih bersih hmmm… aneka seafood tusuk, es lilin kola, sebelum makan siang disebuah kedai chinese food. Selanjutnya kami memasuki komplek Grand Palace yang benar-benar luas dan indah sehingga harga tiket yang cukup mahal terbayar lunas dengan pengalaman ini. Setelahnya kami sempat mendapatkan pengalaman disodori river tour oleh 2 orang pemandu istana gadungan yang saling pamer pangkat hanya dengan menunjukkan pin yang tersemat dibaju mereka. Kami putuskan berjalan kaki ke dermaga untuk river tur sendiri, namun karena cukup melelahkan seharian berkeliling akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa tuk-tuk. Sesampai di dermaga kami menyebrangi Chao Praya menuju ke Wat Arun yang juga dikenal sebagai Temple of Dawn. Melihat langit sudah mulai senja, kami kembali ke dermaga untuk mencari perahu untuk berkeliling di kanal-kanal Bangkok dan melihat beberapa tempat wisata yang berada di tepi sungai/kanal. Di dermaga paling ujung yang berada di area Wat Arun kami menaiki perahu panjang untuk bertiga dan berkeliling ke sungai dan kanal di Chao Praya selama sejam. Walau agak membosankan, setidaknya kami melihat bagaimana kehidupan masyarakat Bangkok yang cukup dekat dengan sungai dan kanal yang tidak dapat ditemui di Jawa.

Selanjutnya kami turun di dermaga lain untuk melanjutkan perjalanan menuju ke arah pusat kota. Tujuan kami adalah Siam Paragon. Di Siam Paragon, kami tidak menemukan sesuatu yang menarik selain mall besar yang serupa dilain tempat. KAmi putuskan untuk menyusuri jalan menuju ke MBK yang berjarak seblok dari Siam Paragon, sepanjang jalan banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya sehingga trotoar sempit maki sempit dengan berjubelnya pejalan kaki yang lewat disitu. Sesampai di MBK yang ternyata sudah hamper tutup karena sudah makin petang, kami memutuskan mengisi perut dahulu. Sayangnya kali ini pesanan saya mengecewakan, maksud hati menikmati degan buah yang segar dengan daging kelapa muda seperti yang dipesan Fandi dan Sudar, eh … ternyata buah saya saking mudanya tidak berdaging! Karena pusat perbelanjaan ini sudah akan berhenti beroperasi, kami putuskan kembali ke hotel dengan taksi, yang lagi-lagi tidak mengerti nama jalan mereka sendiri?!? Setelah akhirnya kami menyetujui bahwa tujuan kami adalah gaosan-lot?!?

Sampai di hotel kami mandi dan bersiap untuk bertualang lagi disekitar khaosan road untuk mencicipi kuliner yang belum kami coba kemarin malam. Fandy memutuskan menikmati Thai-massage disebelah cewek Prancis yang belle tapi pas parle anglais, sedangkan saya dan Sudar menyusuri jalan dan lorong sekitar untuk mencari Tom Yum Goong otentik.walau perut masih kenyang dari makan malam di food court MBK tadi, tapi melihat banyaknya jajanan dan street food khas thai yang bertebaran, kami tiak kuasa untuk tidak mencobanya. Malam ini kami tidur dengan perut yang penuh dan berharap keesokan hari bisa bangun pagi untuk melanjutkan petualangan di hari terkahir kami di Bangkok.

Pagi harinya kami semua bersiap dan mengepak barang-barang kami di kamar hotel, karena hari ini kami check-out sekaligus menuju ke tempat tujuan akhir kami di Chatuchak. Sambil menenteng tas punggung kami masing-masing, kami menyusuri lorong khaosan road terakhir kalinya menuju ke jalan utama. Tujuan pertama kami adalah kuil Wat Pho untuk mengunjungi patung Buddha tidur terbesar. Bunyi koin-koin yang dimasukkan ke mangkok-mangkok perunggu dan dikumpulkan oleh pengurus kuil ke dalam baskom membuat suasana didalam kuil tersebut makin menarik. Kami sempatkan mengelilingi area kuil dan akhirnya memutuskan untuk sarapan pagi di penjaja makanan siap saji sekitar kuil. Dari situ kami lanjutkan perjalanan menuju Chatuchak market dengan taksi. Kurang lebih 45-60 menit kemudian kami tiba di daerah Chatuchak yang sangat padat dengan turis dan masyarakat lokal.

Pasar akhir pekan Chatuchak ini berupa bangunan semi permanen yang tertata di lapangan yang lebih luas dari lapangan bola. Begitu banyak macam dagangan yang ditawarkan, dari kerajinan tangan, aneka macam hasil seni, baju, makanan, hingga aneka binatang yang dimaksudkan untuk dipelihara. Ya, binatang yang dijual tidak hanya berbagai anjing dan kucing, namun juga aneka bajing dan reptil yang dilabeli keras untuk tidak diambil gambarnya, mungkin menghindari protes dan hujatan organisasi penyayang binatang yang tidak bakal setuju dengan praktik ini. Di pasar ini pula kami berkeliling sampai kaki mati rasa, bukan saja karena bingung mencari barang untuk oleh-oleh tapi juga karena kami kehilangan arah ketika Fandy memutuskan untuk menunggu kami disalah satu area. Karena amat besar dan banyak lorong-lorong yang walau telah dipetakan dan tersedia peta khusus bagi para pelancong agar tidak tersesat, saya dan Sudar dua kali mengelilingi area pasar dari dalam maupun luar untuk menemukan lokasi pertemuan yang disepakati pada awalnya. Namun, kami juga menemukan beberapa minuman unik dan segar yang tidak dapat kami temukan di Indonesia serta pencuci mulut lezat yang terbuat dari buah labu kecil dan custard diatasnya… yumm! Setelah merasa cukup berbelanja, kami merasa waktunya untuk mengakhiri kunjungan di pasar Chatuchak, dan setelah berunding, kami rasa ada cukup waktu mengunjungi satu mall lagi di pusat kota.


Berdiri di pinggir jalan dan mencari taksi untuk mengantarkan kami ke Platinum Shopping Center ternyata cukup sulit, bukan karena jarang taksi yang melintas, namun karena rata-rata taksi yang kami minta untuk mengantarkan kesana menolak menggunakan argo bahkan langsung menolak. Setelah beberapa taksi tidak bersedia, kami putuskan untuk menyetujui membayar 100 baht untuk kesana, ternyata alasan mereka menolak kami karena area kota sangat padat dan macet. Di Taksi yang kami tumpangi ini sempat terjadi beberapa hal konyol masalah bahasa, mulai dari tujuan ke Platinum yang ternyata dibaca Pratinam oleh sang sopir hingga nama kawasan yang dilewati saat itu, bahkan ketika sopir taksi memberikan operator di hpnya untuk berbicara dengan kami. Saat itu kami agak khawatir dengan kemacetan yang membuat kami memikirkan ulang tujuan untuk mengunjungi Platinum, namun kami perlu tahu dimana posisi kami saati itu untuk mengambil keputusan selanjutnya. Disekitar jalan yang kami lalui tidak terlihat tulisan atau nama gedung yang mudah dibaca untuk dijadikan petunjuk.

“What road? What street? Here! Here! Sambil mengacungkan tangan kemana-mana ala tarzan agar sang sopir menangkap maksudnya.

“no engglit, no engglit” jawab si sopir.

“cak tratatatas parapapapap kapakapa kap” lanjutnya.

“Hah, maksudnya apa ya? Tanyaku ke Sudar dan Fandy.

Sang sopir dengan sigap langsung memencet tombol-tombol hpnya dan rupanya menghubungi operator taksi untuk dibantu menerjemahkan permintaan kami.

“Can you tell the driver, where are we now?” tanyaku ke operator yang Inggrisnya juga pas-pasan dan aksen aneh pula.

“wat wat, kap kap” jawabnya

Saya serahkan hp ke sang sopir dengan maksud agar si operator dapat menanyakan nama jalan ke sopir dan kemudian menyampaikan pada kami. Eh!… ternyata diluar bayangan sang sopir malah asik ngobrol dengan si operator di hp sambil bersenda gurau.

“Jangkrik, kok malah curhat? Ngomong opo iku rek? Ga genah kok!” celetukku sambil menole

h ke belakang kea rah Fandy dan Sudar duduk.

“hahaha … ditinggal curhat mbek sopire” kata Sudar.

Dan benar setelah itu hp dimatikan dan langsung masuk ke saku tanpa ada tanda-tanda kami akan diberi tahu jalan yang kami lalui saat ini.

“No engglit, no engglit, hahaha . . . thai thai” kata sang sopir.

“De’e bilang de’e orang Thailand, nanya kamu orang apa?” kata Sudar padaku.

“hebat kon isa ngerti bahasane?” timpalku.

“Indonesia” jawabku ke sopir taksi.

“Ooo Indonesia . . . Kris Jon, Kris Jon!” kata sang sopir.

“Ya ya . . . Chris John, from Indonesia” jawabku.

Ternyata orang Thai memang kenal dengan Chris John dan gemar onton tinju karena ini bukan pertama kali kami mendapat jawaban serupa saat memperkenalkan diri dari Indonesia.

Beberapa saat kemudian kami melewati stasiun skytrain yang lengkap dengan papan namanya. Dari situ kami akhirnya tahu lokasi kami saat itu dan segera berputar otak untuk diturunkan ke stasiun skytrain selanjutnya yang menuju ke bandara karena waktu yang tersisa sebelum boarding flight kami hanya sekitar 3 jam. Saya akhirnya bernegosiasi dengan sang sopir untuk merubah tujuan awal kami dari Platinum menuju ke Ratchaprarop station dengan jurus ala tarzan dan berhasil! Setelah tiba distasiun tujuan dan berterima kasi dengan sang sopir, mulailah kam berjalan cepat menuju ke stasiun skytrain Bangkok, berbeda dari MRT di Singapura atau monorel di Malaysia yang hanya berada satu level diatas jalan raya, di Bangkok skytrain berada 3 level diatas jalan raya dan tidak dilengkapi escalator, alias hanya ada tangga manual! Hal ini wajar, karena melihat system jalan di Bangkok yang padat dan penuh jaringan jalan layang bertumpuk yang tidak memungkinkan untuk dibangun jalur rel layang yang hanya berada satu level dari jalan raya. Untungnya setelah sampai di level 2, tempat mesin token skytrain otomatis dan kantor petugas skytrain berada, disediakan escalator menuju platform skytrain di level 3. Setelah akhirnya merasakan semua moda transportasi yang ada di Bangkok kami akan menuju Suvarnabhumi untuk pulang.

Sesampai di Stasiun terakhir di bawah bandara Suvarnabhumi, kami melemaskan kaki dan mulai bergantian menyegarkan diri di toilet untuk mencuci muka, berganti pakaian dan mengisi botol minum kami masing-masing. Setelah itu kami mencari makan malam sebelum check-in, karena waktu masih tersisa 2 jam dan sempat pula diajak berbahasa thai disangka orang lokal oleh pelayan restoran. Kami menyempatkan menghabiskan sisa uang kecil dan koin untuk oleh-oleh. Setelah melihat jam menunjukkan jam hanya tersisa 1 jam lebih, kami cepat-cepat menuju ke counter untuk check-in dan sempat pula Saya dan Sudar mengambil foto diatas Tuk-Tuk yang disediakan di lounge. Setelah kami menuju ke bagian imigrasi dan melihat antrian yang sangan panjang dan padat, barulah kami merasa was-was apakah waktu yang tersisa cukup sebelum gate flight kami ditutup! Setelah melewati antrian panjang dan berbagai pemeriksaan lainnya, kami bertiga segera berlari menuju ke gerbang penerbangan kami yang ternyata masih amat jauh dan menghabiskan waktu sekitar setengah jam dengan berlari bahkan diatas conveyor!

Keberuntungan ternyata masih berpihak pada kami karena penerbangan kami terlambat sekitar 20 menit dan kami sempat beristirahat sebentar di ruang tunggu setelah berlarian takut ketinggalan pesawat. Begitu kami duduk di bangku pesawat, perasaan lega dan lelah bercampur. Benar-benar pengalaman yang mengesankan di kota seribu wat. Kami harap lain waktu dapat berkunjung lagi untuk menikmati keindahan alam dan pantainya yang tersohor.

the end.

Tips untuk berjalan-jalan di Bangkok :

1. pastikan survey tempat-tempat wisata melalui website resmi dimana tarif masuk/tiket wisata ditulis jelas untuk menghindari salah bayar

2. buku panduan perjalanan murah cukup berguna sebagai panduan Anda sebelum bertanya ke orang lokal

3. usahakan bepergian pada saat hari besar Buddha untuk yang tertarik pada hal-hal yang berbau budaya untuk dapat masuk ke kui;-kuil cantik secara gratis 🙂

4. hindari bepergian dengan tuk-tuk apabila waktu terbatas karena Anda akan dibawa menuju toko perhiasan dan tekstil yang dimana pengemudi tuk tuk mendapatkan voucher bbm yang cukup memakan waktu

5. sempatkan mampir ke weekend market Chatuchak dimana semua yang ada cari ada disitu bahkan lebih, ditambah lagi aneka jajanan dan makanan yang tersedia beragam dan nikmat!

6. apabila ada kesulitan lebih bijak menemui polisi atau petugas resmi pariwisata di tempat resmi untuk menghindari penipuan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Air Asia Surabaya Bangkok

Air Asia Surabaya Bangkok

Cihuuuiiiy, akhirnya sebelum berangkat ke Thailand, sudah ada flight murah dari Air Asia, langsung Surabaya ke Bangkok..!!

HotelsCombined.com - Hotel Price ComparisonUntuk yang baru pertama kalipun ke Bangkok, tidak usah takut, karena Air Asia sudah memberikan banyak sekali panduan untuk kita yang baru pertama kali ke Bangkok.

Silahkan bisa dibaca sendiri di link ini:

http://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/go-thailand-go-bangkok-informasi-dasar-tentang-bangkok/194040697295683

Atau bisa juga membaca catatan perjalanan, berikut dengan perincian harga, selama saya berlibur ke Bangkok:

*CATATAN PERJALANAN KE BANGKOK*

*PERINCIAN HARGA SELAMA KE BANGKOK*

Haloo Bangkok, pasti tambah banyak warga Surabaya / Jawa Timur yang liburan ke Bangkok nantinya, hehehe…

Happy Traveling !

INFO PENERBANGAN / TIKET PESAWAT TERMURAH, klik di sini:

http://liburanmurah.info/tiket-murah-cheap-flights

Air Asia Murah tapi bukan Murahan…!!

Air Asia Murah tapi bukan murahan..

Sudah beberapa kali naik Air Asia, dan cukup memuaskan. Justru kesan saya terhadap Air Asia ini semakin membuat saya kagum, karena sistem di Air Asia yang sangat praktis, dan cukup “canggih” (menurut saya pribadi 🙂

Berikut beberapa fasilitas dari sistem Air Asia, yang menurut saya sangat memudahkan bagi kita sebagai backpacker dalam bepergian. Dan fasilitas tersebut belum ada di penerbangan lain..

(1) MOBILE CHECK-IN. Fasilitas yang terdapat di penerbangan Air Asia, jadi kita bisa check in terlebih dahulu tanpa takut terlambat, baik melalui website, maupun melalui mesin check-in di Airport tertentu.

(2) Pesan makanan secara ONLINE. Air Asia merupakan budget flight, tetapi kita tetap dapat memesan makanan, dan enaknya lagi menu makanan ada berbagai macam, yang tentunya dapat disesuaikan dengan selera kita pribadi..

(3) TRANSFER FLIGHT. Sekarang sudah tersedia berbagai transfer flight, ke negara tertentu. Enaknya kita tidak usah melalui kounter imigrasi, dan tidak perlu untuk check-in bagasi. Fasilitas ini sebenarnya sudah ada sebelumnya di penerbangan lain.

(4) PESAN KURSI (Pick A Seat). Waah, ini rasanya belum ada di penerbangan lain, yaitu kita dapat memilih kursi sesuai dengan pilihan kita. Ada tambahan biaya, tapi tidak masalah juga tentunya..

(5) Berbagai Pilihan Bagasi, mulai dari bagasi kabin (Free), sampai bagasi yang berbayar. Jadi kalau kita tidak membutuhkan bagasi, tidak perlu bayar biaya tambahan untuk bagasi bukan ?

Naah, kalau untuk complain Air Asia, sudah mendengar berbagai komplain dari berbagai orang, tentang layanan dari Air Asia, mulai dari keterlambatan penerbangan, sampai dengan kru AA yang kurang baik.

Tetapi yang saya alami selama ini malah sebaliknya, penerbangan saya (sudah kurang lebih 10x terbang dengan AA) tidak ada masalah, misalnya ada keterlambatan juga tidak terlalu lama (yang paling lama sekitar 2 jam). Kru kabin juga baik-baik kok, selama kita tidak melanggar peraturan selama di pesawat (seperti menyalakan handphone dan lainnya). Kalau untuk penerbangan lanjutan, saran saya apabila penerbangan kita tidak ada fasilitas transfer flight dan juga kita tidak mengambil asuransi penerbangan, tidak ada salahnya apabila kita mengambil jarak ke penerbangan selanjutnya, selama minimal 4 jam, seperti yang sudah saya lakukan untuk penerbangan saya HANOI-KL dan KL-SUB. Untuk jaga-jaga saja apabila ada flight delayed.

🙂

INFO PENERBANGAN / TIKET PESAWAT TERMURAH, klik di sini:

http://liburanmurah.info/tiket-murah-cheap-flights

A Complete Tour: Catatan Perjalanan Liburan Murah ke Vietnam 8 hari 7 malam, cuma 4 juta’an termasuk PESAWAT…!!

Liburan Murah ke Vietnam

Hanoi, Sapa & Halong Bay

Catatan perjalanan selama saya bepergian ke Vietnam, yaitu ke kota Hanoi, Tam Coc, Sapa / Lao Cai, dan Ha Long Bay. Sebelumnya mampir dulu 1 malam ke Tune Hotel LCCT, selama total selama 9 hari 8 malam, dari tanggal 22 Maret sampai dengan 30 Maret 2011.

Agenda tour yang cukup komplit, mulai dari melihat berbagai macam pemandangan, seperti sawah, gunung, stone karst, gua, air terjun, danau, sampai lautan.

Selain pemandangan juga keliling kota Hanoi, dan melihat berbagai bentuk bangunan, mulai dari bangunan historis / bersejarah, museum, bangunan religius, melihat rumah asli penduduk ethnis minoritas di gunung (Sapa) lengkap dengan baju’nya yang COLORFUL, sampai dengan mencoba berbagai jenis makanan khas Vietnam.

Transportasi juga lumayan lengkap, mulai dari mencoba naik becak (cyclo), mobil, kereta api, sampan, kapal (cruise), sampai naik pesawat, ya iya lah naik pesawat, hehe.. 🙂

(*) Untuk PERINCIAN HARGA & BIAYA selama di Vietnam, bisa lihat DI SINI..

(*) REKOMENDASI AGENT TOUR di Vietnam, klik DI SINI..

(*) Klik juga DEJAVU di VIETNAM, karena berlibur ke Vietnam ini mengingatkan saya selama bepergian ke China, dan ada beberapa catatan tambahan tentang kehidupan masyarakat setempat di Vietnam..

*CATATAN PERJALANAN*

DAY 1: 22 Maret 2011

Hari pertama, akhirnya berangkat juga ke Vietnam! Start dari bandara Juanda, pertama-tama kita harus berangkat dulu ke Bandara LCCT di Kuala Lumpur, karena tidak ada direct flight ke Hanoi, Vietnam. Berhubung flight dari Vietnam yang berangkat pagi-pagi sekali, yaitu jam 6 pagi, maka kita harus menginap dulu di Tune Hotel LCCT, untuk kemudian besok pagi-pagi baru berangkat ke Vietnam. Sore hari, kita berjalan kaki sebentar sekitar 10 menit, menuju ke Food Garden di area LCCT (semacam food court) untuk makan malam. Malam itu kita tidur agak awal, karena besoknya harus bangun jam 3 pagi untuk check in di bandara LCCT.

DAY 2: 23 Maret 2011

Bangun jam 3 pagi, kita kemudian siap-siap sebentar, untuk kemudian jam 3.30 kita sudah siap di lobby Tune Hotel naik vans menuju ke Bandara LCCT. Kurang lebih jam 4 pagi, sampai di bandara LCCT, langsung mengurus check-in dan bagasi menuju ke Hanoi, Vietnam..

Persis jam 9.30 pagi, pesawat kita sampai juga di Vietnam. Sudah ditunggu oleh pihak VIETNAM SUNRISE TRAVEL yang sudah kita contact dari Surabaya, segera kita berangkat menuju ke hotel kita di area Old Quarter, yaitu Golden Sunrise Hotel. Begitu sampai di hotel sekitar jam 11, setelah kita check-in dan taruh barang di kamar hotel, langsung keluar untuk jalan-jalan dan cari makan siang. Tujuan kita pertama yaitu, Hoan Kiem Lake. Tidak terlalu jauh dari hotel, cuman berjalan kaki sekitar 10 menit. Setelah foto-foto sebentar, kemudian kita cari makan di dekat hotel. Hmm, pengin makan apa yaa ? Yang harus dicoba pertama kali di Vietnam, ya tentunya makan P.H.O. Pho ini yaitu makanan mie dari beras, yang banyak dijumpai di setiap tempat di Hanoi, Vietnam. Rasanya ? Enak! Kuah kaldu bening, dengan mie beras yang enak. Pilihan daging bisa daging ayam, sapi atau babi. Budaya makan di Vietnam ini berbeda dengan warung pinggir jalan di Indonesia. Tempat makan pinggir jalan di Vietnam ini selalu memakai kursi pendek, sehingga cukup menyulitkan orang bertubuh gemuk untuk duduk. Pantesan nggak ada orang gemuk di Vietnam, hehe.. 🙂

Siang menjelang sore, sekitar jam 2, kita jalan kaki menuju gedung tempat Water Puppets Show. Tiket untuk melihat pertunjukan water puppets sudah kita pesan sebelumnya. Lumayan bagus, karena baru pertama kali juga lihat pertunjukan boneka di atas air. Tidak tahu bahasa Vietnam juga, tetapi show boneka ini kurang lebih memperlihatkan kehidupan sehari-hari dari masyarakat Vietnam.

DAY 3: 24 Maret 2011

Hari ketiga ini schedule kita yaitu jalan-jalan keliling kota Hanoi. Ada beberapa tempat wisata di sekitar kota, terutama yaitu melihat bangunan bersejarah di sekitar kota Hanoi. Karena ada banyak tempat yang bisa dilihat, akhirnya kita pilih 5 tempat, yang merupakan tempat wisata utama bagi turis di kota Hanoi ini.

(1) Ho Chi Minh Mausoleum & Ho Chi Minh Stilth House

Di sini kita dapat melihat jasad Ho Chi Minh yang sudah diawetkan. Antrian di sini sangat panjang, untuk antri sendiri bisa lebih dari setengah jam. Setelah sampai di tempat jasad Ho Chi Minh yang dijaga sangat ketat, kita juga tidak boleh mengambil foto dan harus terus berjalan, tanpa boleh berhenti. Di area ini juga kita bisa melihat rumah tinggal Ho Chi Minh (Ho Chi Minh Stilt House) pada jaman dahulu, melihat perabotan rumah yang masih asli terjaga, dan juga kendaraan mobil pribadi dari Ho Chi Minh.

(2) One Pillar Pagoda

Kita dapat melihat pagoda tempat sembahyang. Yang unik di sini pagoda ini berdiri di atas kolam kecil, dengan 1 pillar saja, tetapi pillar yang besar. Bisa dilihat di gambar di bawah ini.

(3) Temple of Literature

Tempat pendidikan pertama kali di kota Hanoi. Area Temple of Literature ini lumayan besar juga. Di area paling belakang ada show dari penampil musik setempat, yang menampilkan musik khas dari Vietnam. Salah satu alat musik (lihat gambar di bawah) dibunyikan hanya dari tepukan tangan.

Setelah tempat ketiga di atas, kita break alias makan siang dahulu karena waktu sudah sekitar jam 12.30. Baru sekitar jam 2 siang, kita lanjut lagi ke tempat yang berikutnya.

(4) Hoa Lu Prison

Tempat penjara jaman dahulu, yaitu mulai dari jaman kependudukan Prancis di Vietnam, sampai dengan jaman perang Vietnam dengan U.S.A. Di sini diceritakan nasib tahanan perang waktu dipimpin oleh Prancis yang tidak berperikemanusiaan, sampai dengan tahanan perang dari U.S.A. waktu dipimpin oleh Vietnam, yang diceritakan sangat baik. Bahkan tentara Amerika, saking enaknya, menyebut penjara ini sebagai Hanoi “Hilton” Hotel.

(5) Temple di Hoan Kiem Lake

Tempat terakhir, kita pergi ke Temple yang ada di tengah-tengah Hoan Kiem Lake. Hampir mirip seperti pemandangan temple di tengah danau terkenal di China, yaitu danau West Lake di kota Hangzhou, cuma masih kalah besar. Enak juga apabila sore-sore duduk santai di sini.

Setelah selesai melihat ke-lima tempat di atas, di akhir tour hari ini kita naik Cyclo, alias “naik becak” keliling Old Quarter, mengelilingi toko-toko yang banyak terdapat di area Old Quarter ini. Lumayan lama juga yaitu sekitar 1 jam, dan lumayan puas bisa mengelilingi Old Quarter tanpa harus lelah berjalan kaki.

DAY 4: 25 Maret 2011

Jadwal hari ini kita pergi ke daerah Tam Coc, yaitu sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota Hanoi. Tempat pertama yang kita tuju di Tam Coc ini yaitu mengunjungi Temple yang memuja Raja Dinh dan Raja Le, yang dulunya disini merupakan pusat pemerintahan di Hoa Lu, sebelum pindah ke kota Hanoi.

Setelah dari Temple ini, yaitu sekitar jam 12.30, kita makan siang dahulu. Berikutnya, waktunya SAMPAN RIDE, atau NAIK SAMPAN! Seru juga, pengalaman pertama buat Anna naik sampan kecil seperti ini. Rute perjalanan sampan ini juga sangat asyik, karena melalui gunung batu dan juga 3 gua di bawah kaki gunung, dengan stalagtit dan stalagmit’nya yang bagus.

Sore hari setelah acara naik sampan, kita balik menuju ke kota Hanoi. Sempat makan malam dahulu sebentar, setelah itu segera kita menuju ke stasiun kereta api, untuk berangkat naik kereta api Livitrans Express menuju ke kota Lao Cai. Dari Lao Cai kita akan naik vans untuk melanjutkan perjalanan ke kota Sapa. Lumayan, kereta api Livitrans ini lumayan bersih, ada tempat tidurnya lagi, seperti kereta di Eropa. Tapi kereta api di sini lumayan juga goyangan’nya, bahkan lebih goyang dari kereta api Argo di Indonesia! Tidak apa-apa, seperti kereta tidur bayi, semakin digoyang tidurnya pasti semakin pulas, hehe.. 🙂

DAY 5: 26 Maret 2011

Jam 5 pagi tiba di stasiun kota Lao Cai, kita dijemput oleh supir dari Thai Binh Hotel untuk menuju ke kota Sapa. Sampai di Thai Binh Hotel di kota Sapa jam 6 pagi, kita menghangatkan diri dulu di perapian, mengingat suhu udara di kota Sapa yang masih dingin, sekitar 5 derajat Celcius, sambil menunggu menu breakfast yang sedang disiapkan oleh pemilik hotel. Breakfast hari ini sederhana, tapi mengenyangkan. Menu seperti menu breakfast orang barat, yaitu Roti French Bagel dan Omelette, berikut dengan kopi/teh/coklat hangat. Hmmmm…

Setelah itu, kita bisa beristirahat sebentar di kamar hotel, karena membawa orang tua yang tentunya sulit untuk tidur di dalam kereta. Jam 10.30, kita sudah dijemput oleh tour guide setempat, untuk menuju ke Cat Cat Minority Village, yaitu perkampungan asli dari penduduk setempat. Tempat tinggal penduduk setempat sangat sederhana, di tengah-tengah bukit & pegunungan. Yang menarik di sini yaitu pakaian asli penduduk di Cat Cat Minority Village yang sangat khas, sangat COLORFUL, berwarna-warni, sama seperti semangat penduduk setempat di sini yang selalu tersenyum terhadap orang asing yang datang 🙂

Di ujung jalan setapak dari perkampungan Cat Cat ini, terdapat air terjun yang cukup bagus, dengan penjual makanan di pinggir air terjun. Cukup mengenyangkan juga setelah kita menuruni jalan setapak yang cukup panjang.

Siangnya, kita makan dahulu di hotel Thai Binh. Setelah itu, orang tua saya memutuskan untuk istirahat saja. Sedangkan saya sendiri masih pengin jalan-jalan. Sebenarnya bisa juga naik ke atas kota, ke gunung Ham Rong. Tetapi karena waktunya tidak cukup, akhirnya saya cukup jalan-jalan keliling kota Sapa saja.

Sapa Town

Malam harinya kita makan malam di restaurant di dalam kota Sapa. Suasana malam sangat berkabut, dengan jarak pandang yang sangat dekat. Lebih dingin lagi dibanding siang hari. BBRRR…..!!

Sapa di waktu malam

DAY 6: 27 Maret 2011

Besoknya, setelah breakfast, kita sudah harus siap berangkat jam 8 pagi. Sebelumnya kita mengurus check out hotel dahulu, karena malam harinya kita akan langsung menuju ke stasiun kereta untuk balik ke kota Hanoi. Pagi itu kita akan melakukan perjalanan yang cukup lama, yaitu sekitar 3 jam, menuju ke kota Bac Ha. Ada ada di kota Bac Ha ? Di sini kita bisa melihat pasar tradisional terbesar di daerah Sapa, yaitu tempat berkumpulnya semua suku ethnic minority, yang hanya berkumpul di hari Minggu, untuk melakukan jual-beli. Tempat yang akan kita tuju yaitu Bac Ha Sunday Market. Foto-foto Bac Ha Sunday Market bisa dilihat di bawah ini. Hampir segala jenis barang dapat kita temui di Bac Ha Market ini..

Setelah dari Bac Ha, sore harinya kita berangkat ke kota Lao Cai. Makan malam sebentar, kemudian kita segera menuju ke stasiun Lao Cai, untuk balik ke kota Hanoi, dan besok kita akan menuju ke Halong Bay dengan Emotion Cruise.

DAY 7: 28 Maret 2011

Jam 4.30 pagi sudah sampai di kota Hanoi. Untungnya kita memakai jasa tour, jadi mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya supaya kita tidak usah menunggu sampai dengan jam 8 pagi di stasiun. Pihak Sunrise Travel sudah menyediakan Transit Hotel yang berada dekat dengan Stasiun Hanoi, cukup berjalan kaki 5 menit, dan kita dapat mandi-mandi dan istirahat sebentar di Hotel New Moon ini, sebelum jam 8 nanti dijemput oleh pihak Emotion Cruise.

Emotion Cruise.

Jam 8 pagi tepat sudah dijemput oleh pihak Cruise. Cruise ini akan melakukan perjalanan ke Halong Bay, yaitu merupakan kumpulan gunung batu atau disebut juga limestone karst yang sangat banyak, yaitu sekitar 2000 gunung batu. Perjalanan ke Halong Bay ini memakan waktu sekitar 3 jam, tetapi kita sempat berhenti sebentar untuk istirahat, makan & minum, dan pergi ke kamar kecil. Kita tiba di Halong Bay sekitar jam 12.

Woooww !!

Sebelumnya cuma melihat dari website Emotion Cruise. Ternyata kapal cruise ini lumayan mewah juga, dengan interior, baik interior kamar maupun interior lobby & restaurant yang didesain dengan baik. Makanan di cruise ini juga cukup enak. Siang hari kita disediakan set menu untuk makan siang. Setelah itu istirahat sebentar di kamar, sore harinya kita pergi ke Fishing Village, atau perkampungan nelayan di Halong Bay.

Malam harinya menu makan malam kita sangat enak, yaitu Seafood Buffet Dinner! Kenyaaangg.. Malam itu setelah selesai makan malam, Anna ketemu teman bermain baru, yaitu Mari Kite dari Norwegia. Aneh juga, meskipun Anna tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka dapat berkomunikasi satu sama lain. Mungkin pake bahasa anak-anak kali ya, hehehe.. 🙂 Setelah bermain cukup lama, sekitar jam 9 malam, kita turun ke dek bawah di lantai 1 menuju ke kamar kita untuk tidur.

DAY 8: 29 Maret 2011

Pagi harinya, kita dapat mengikuti acara Tai Chi di Sun Deck kapal Emotion Cruise ini. Setelah itu jam 7 pagi kita dapat breakfast roti seperti biasa, dan jam 8 kita dapat mengikuti tour ke Sung Sot Cave, atau disebut juga Amazing Cave. Gua yang terletak di salah satu gunung batu di Halong Bay ini sangat menakjubkan, sesuai dengan namanya, Amazing Cave..

Dari Sung Sot Cave, kita kembali ke kapal, untuk proses check out. Setelah itu kita dapat foto-foto Halong Bay dahulu dari Sun Deck di dek paling atas dari kapal. Baru kemudian sambil menunggu kapal merapat ke kota Halong, kita dijamu buffet brunch terlebih dahulu, sekitar jam 11. Tiba di dermaga Halong City pada jam 12, kita langsung naik vans untuk balik ke kota Hanoi. Malam ini rencananya kita pergi ke Supermarket dan toko buku, untuk beli oleh-oleh buat dibawa pulang nanti.

DAY 9: 30 Maret 2011

Akhirnya pulang juga ke Surabaya. Tapi sekali lagi, kita tidak langsung menuju ke Surabaya, melainkan transit dulu ke Kuala Lumpur, melalui bandara LCCT. Sampai di LCCT sekitar jam 2 siang, kita jalan kaki menuju ke Food Garden. Di sana kita duduk-duduk santai, karena flight berikutnya menuju ke Surabaya masih cukup lama, yaitu boarding sekitar jam 18.30.

Jam 9 malam, aaah, sampai juga di kota Surabaya tercinta ! Puji Tuhan, terimakasih untuk perjalanan kali ini yang cukup sukses, semua agenda perjalanan dapat ditempuh tanpa hambatan yang berarti. Awalnya cukup kuatir juga karena membawa anak kecil & orang tua. Semuanya bisa sehat-sehat, dan juga senang sekali dapat ikut cruise & melihat Halong Bay yang sudah terkenal di dunia. Tidak lupa, di bawah ini ada sedikit oleh-oleh buat teman-teman Liburan Murah, Spring Rolls dan Kopi Vietnam yang uenaaakkk, hehehe.. 🙂

Review dan Perbandingan HARGA HOTEL TERMURAH di VIETNAM :

HARGA HOTEL di HO CHI MINH, VIETNAM

HARGA HOTEL DI HANOI, VIETNAM

HARGA HOTEL DI DA NANG, VIETNAM

Catatan Perjalanan Surabaya-Singapore-Shanghai World Expo 2010-Hangzhou-Jogjakarta: Day by Day

HotelsCombined.com - Hotel Price Comparison Shanghai World Expo 2010

Berikut catatan harian perjalanan saya dari Surabaya – Singapore – Shanghai – Shanghai World Expo 2010 – Hangzhou – Jogjakarta – Surabaya

* Hari Pertama (19 Oktober 2010):

Berangkat dari Surabaya ke Singapore sekitar jam 3 sore, kemudian sampai di Singapore jam 6.30 malam. Dateng di Singapore, langsung cari makan dulu, udah mulai lapar 🙂

Karena udah beberapa kali ke Singapore, dan juga sudah bolak-balik terlantar di bandara Changi, kita langsung menuju ke tempat makan murah-meriah, mirip hawker center, di kantin karyawan yang letaknya di Basement 1 Terminal 1 Changi. Tempatnya seperti food court, bersih, dengan harga makanan yang sangat terjangkau, sekitar 3-4 SGD..

Setelah itu tidur2-an dan menungguuu, sampai dengan jam 3 pagi, untuk kemudian menuju ke Kunming untuk transit ke Shanghai..

* Hari Kedua (20 Oktober 2010):

Jam 7 pagi sampai di Kunming, urus imigrasi dll. Ternyata setelah itu bagasi tidak ditransfer langsung, tapi harus check out bagasi dulu, baru kemudian harus check in lagi untuk penerbangan ke Shanghai. Langsung kita urus untuk proses check in bagasi.

Jam 1 siang sampai juga di Shanghai. Pertama2 masih mencari-cari juga, karena dari bandara ini menurut info di internet terdapat stasiun Subway Metro Shanghai yang langsung menuju ke stasiun Metro tempat kita menginap, yaitu di daerah East Nanjing Road. Akhirnya setelah coba mencari sekitar 5-10 menit-an, ketemu juga Metro-nya, di area lantai bawah arrival hall bandara.

Next, setelah sampai di East Nanjing Road, yang rasanya paling membutuhkan waktu lama dalam perjalanan saya sekarang ini, yaitu mencari alamat hotel! Kalo info dari Agoda, kelihatannya cukup dekat, sekitar 5 menit berjalan kaki. Tetapi setelah mencoba jalan kaki dengan arah yang rasanya benar, kok belum ketemu juga. Setelah tanya dengan bahaza tarzan kesana-sini, akhirnya ketemu juga hotel Lakeside Holiday Inn Hotel di ujung jalan, persis di seberang sungai Huangpu, di South Suzhou Road. Jarak agak jauh sedikit dibanding info dari Agoda, sekitar 10-15 menitan berjalan kaki dari subway Metro East Nanjing Road, tapi tidak apa-apa lah, karena hotelnya ternyata juga sesuai dengan harapan kita, yaitu bersih, kamar yang cukup besar & nyaman, dengan ranjang yang cukup untuk bertiga ( 2 double bed & 1 single bed ).

Malamnya, coba cari makan sambil jalan2 ke Shanghai Bund dan East Nanjing Road, ketemu tempat makan yang cukup murah di Middle Henan Road dan akhirnya jadi langganan kita untuk makan malam, karena harga termasuk cukup murah dengan porsi yang besar. Kebetulan depotnya dikelola oleh pak Haji (atau bukan yaa ??), karena ada label halal di papan nama depot tersebut, dan pemilik depot selalu pake topi kecil khas orang muslim 🙂

TIPS: Untuk makan di Shanghai ini, tidak tersedia minuman kalau kita tidak minta. Mungkin karena setiap kali kita makan, selalu disediakan seperti kuah kaldu, jadi orang sana langsung minum dari kuah itu, tidak perlu nambah minum lagi, hehe.. 🙂

* Hari Ketiga (21 Oktober 2010), Expo Day 1:

Makan pagi dulu di hotel. Lumayan juga, makan pagi buffet / prasmanan, tapi ala restaurant China. Jadi menu kita setiap harinya sama, yaitu bakpao daging dan sayur, labu, nasi goreng, mie, telor, bubur dengan cakue, berbagai macam asinan & sayur, dan roti panggang. Untuk minumnya ada air putih, jeruk hangat, dan susu hangat..

Setelah itu jam 8 pagi lanjut ke stasiun Metro. Disini kita masuk dari Gate 6 Shanghai Expo, yang terkoneksi langsung dengan stasiun Metro Yaohua Road Station. Kita sampai di gate Expo sekitar jam 8.30 pagi.

Wuuiiiihhhh…..!!!

Antrean di gate Shanghai Expo ini sangat panjaangg. Belum lagi harus desak-desakan dan orang asli sana yang main serobotan waktu antri. Coba bisa antri dengan tertib, pastinya akan lebih cepat & teratur.

Setelah masuk ke dalam Expo, kita berada di area Expo Axis. Selanjutnya, supaya bisa melihat dengan pandangan yang lebih jelas ke semua area Expo, kita naik ke Elevated Walkway, yaitu area jalan kaki yang letaknya di atas jalan raya, jadi kita lebih leluasa untuk melihat pavillion Expo di sekitar. Setelah itu baru kita bisa memutuskan kira-kira Pavillion Expo yang mana yang hendak dituju.

Hari pertama Expo ini masih agak mencari-cari dulu, berjalan kaki dari Elevated Walkway ke Zona A, Zona B, sampai ke Zona C. Akhirnya hari ini bisa juga masuk ke dalam beberapa Pavillion, yaitu: Vietnam, Laos, Mini Japan, Maroko, Boznia Herzegovina, Canada, Brazil, dan USA. Setelah itu hari sudah lumayan malam, akhirnya kita memutuskan untuk pulang.

TIPS: Kehidupan di Shanghai, baik waktu kita antri di Expo, maupun di Subway Metro, orang-orang di sana selalu tampak sibuk, berjalan cepat sekali. Ngobrol maupun telepon, mereka kebanyakan juga bersuara sangat keras, tanpa memperdulikan sekitarnya. Satu lagi yang paling penting yaitu masalah antri. Di sini antri sama sekali tidak tertib, lain seperti di Singapura. Jadi seperti misalnya memasuki Metro, orang-orang langsung berdesak-desakan untuk masuk dengan saling mendorong, dengan tidak ada budaya antri yang tertib. Malahan saya pernah menemui orang yang mau keluar dari subway Metro, hampir tidak bisa keluar karena terdorong sama orang yang mau masuk. Pengalaman baru juga siiih, tapi salah satu pengalaman yang tidak mengenakkan, hehehe.. 🙂

* Hari Keempat (22 Oktober 2010), Expo Day 2:

Langsung naik bus ke zona Amerika, melanjutkan perjalanan kita terakhir dari Pavillion USA. Dari sini, kita coba masuk ke beberapa pavillion, seperti: negara2 di Amerika Latin, Slovenia, dan Egypt. Lanjut berfoto2 ria di depan pavillion Inggris dan Germany. Karena hari sudah siang, dan rasanya semua zona A, B, dan C di Pudong Site ini sudah terjelajahi, kita coba menyeberang naik kapal ke Puxi Site. Waah, ternyata naik kapal pun harus antriiii lagi. Yaah, karena sudah sampai di sini, akhirnya kita antri juga untuk menyeberang sungai Huangpu ke Puxi Site.

Sampai di Puxi Site, disini banyak juga terdapat pavillion dari berbagai perusahaan, dan juga theme pavillion dari China. Kita coba masuk ke Foot Print Pavillion, disini terdapat sejarah peninggalan berbagai negara. Lanjut foto2 dari luar, untuk pavillion Coca-Cola, Oil Company, dan lainnya. Pemandangan terutama pada waktu malam sangat bagus, karena di beberapa pavillion terdapat permainan lighting yang sangat bagus.

Untuk balik ke Pudong Site, karena sudah lumayan malam dan antrian kapal yang semakin panjang, akhirnya kita memutuskan untuk coba naik subway Metro khusus untuk Shanghai Expo ini. Ternyata malah tidak ada antrian sama sekali, dan kita bisa langsung balik ke Pudong Site untuk menuju ke stasiun Metro di Yaohua Road Station.

TIPS: Di Expo ini terdapat banyak transportasi gratis yang bisa dimanfaatkan, seperti misalnya bus, kapal, dan subway Metro. Untuk rutenya kita bisa membaca dari peta Expo Map yang disediakan gratis atau kita bisa minta di salah satu volunteer Expo yang berbaju hijau.

* Hari Kelima (23 Oktober 2010), Expo Day 3:

Beruntung sekali, paling tidak 2 hari pertama Expo sama sekali tidak ada hujan dan cuaca yang cukup cerah. Hari ketiga ini ternyata hujan sepanjang hari sampai dengan malam, dengan angin yang cukup kencang. Akhirnya kita cuma berjalan-jalan sebentar di Zona Eropa, makan siang di Hakuna Matata di Africa Pavillion, terus menunggu hujan reda di Expo Axis. Setelah ditunggu sampai dengan sore dan tidak terlihat hujan mau berhenti, akhirnya kita memutuskan untuk balik ke hotel.

* Hari Keenam (24 Oktober 2010):

Hari ini hujan masih turun, jadi kita memutuskan untuk lihat Madame Tussauds dan cari oleh2 di People Park dan Yuyuan Garden. Madame Tussauds ya seperti itu, kita bisa foto2 dengan patung lilin dengan berbagai figur yang sudah terkenal, sepuasnya.

Untuk People Park, kelihatannya lebih ke menjual barang2 yang ber-merk, dengan harga yang sudah mahal, jadi akhirnya kita cuman beli oleh2 makanan di sana. Lanjut ke Yuyuan Garden, di sini menjual perhiasan dan juga pakaian. Tapi sayangnya kita sampai di Yuyuan sudah sore mendekati malam, jadi toko-toko sudah banyak yang tutup. Lagian karena yang ikut cowok semua, jadi tidak terlalu pintar untuk milih pakaian dan menawar harga, hehe.. 🙂

TIPS: semua tempat yang saya sebutkan diatas, semuanya dapat dicapai dengan subway Metro. Jadi kalau ke Shanghai, sebaiknya manfaatkan fasilitas subway saja, karena harga jauh lebih murah ketimbang taxi. Untuk ongkos naik subway ini, tergantung jauh-dekatnya, untuk biaya sekitar 3-5 RMB (Rp. 4.000 s/d Rp. 7.000,-)

* Hari Ketujuh (25 Oktober 2010):

Persiapan bangun pagi2, untuk cari tiket kereta ke Hangzhou untuk melihat danau Xihu atau disebut juga West Lake, yang merupakan salah satu danau yang terkenal di China. Kita naik subway Metro menuju ke Shanghai South Railway Station. Sesampainya di sana, ada 3 kereta ke Hangzhou sampai dengan siang, semuanya untuk hari ini sudah habisss…!!

Untung salah satu saudara saya yang ikut bersama-sama, menyarankan naik bus. Dan lebih beruntungnya lagi, di stasiun kereta itu ternyata ada juga stasiun bus untuk jarak jauh. Langsung kita berjalan kaki sekitar 10-15 menit ke stasiun bus, dan dapet juga tiket ke Hangzhou. Yeeaahh…!!

Jam 11 siang, sampai juga di Hangzhou. Woow, stasiun bus-nya sangat bagus, mungkin bisa dibilang sama dengan bandara Juanda kita di Surabaya. Kalo dibandingkan dengan bandara Adisucipto di Jogjakarta, malah lebih bagus dan lebih besar stasiun bus di Hangzhou ini. Setelah tanya2 ke petugas stasiun, disarankan naik bus dengan kode 111 untuk menuju ke West Lake (Xihu Lake), murah sekali, cuman bayar RMB 2 sekali jalan.

Perjalanan ke Xihu Lake / West Lake lumayan juga, sekitar 40 menit. Sampai di halte bus disana, kita juga tidak langsung sampai ke West Lake, tapi harus lagi-lagi berjalan kaki, sekitar 15 menit. Tapi lumayan juga kok, danau Xihu dengan pulau kecilnya di tengah. Yang harus dicoba naik cruise kapal ke pulau di tengah, dan disana bisa foto2 dengan pemandangan danau dan background gunung & kuil / temple yang kelihatannya sudah ada sejak jaman dahulu kala..

TIPS: untuk pergi ke kota lain dari Shanghai, kita bisa mencoba berbagai rute transportasi. Mulai dari bus, kereta api, dan pesawat terbang. Kereta api juga sudah ada beberapa rute yang menggunakan kereta api cepat, dengan kode “D-Train“. Jadi pertimbangkan sendiri kira-kira alternatif transportasi apa yang hendak digunakan.

* Hari Kedelapan (26 Oktober 2010):

Sampai juga di hari terakhir di Shanghai. Setelah makan pagi, berangkat untuk foto-foto sebentar di Shanghai Bund, karena sebelumnya belum sempat ke Shanghai Bund di waktu pagi / siang. Cuaca untungnya tidak hujan, meskipun agak mendung. Tapi masih lumayan juga kok untuk berfoto ria. Setelah itu nyantai sebentar di hotel, sebelumnya jam 12 siang check out dari hotel, menuju ke bandara Hongqiao International, untuk balik ke Singapore via Kunming.

* Hari Kesembilan (27 Oktober 2010):

Sampai di Singapore, lanjut naik Air Asia ke Jogjakarta jam 11 siang. Sampai di Jogja jam 12.30 siang, langsung naik bus Trans Jogja ke Stasiun Tugu di Malioboro. Kita langsung pesan tiket kereta Sancaka Sore menuju ke Surabaya, dan untungnya masih ada..!! Waaah, lega juga, akhirnya jam 9 malam sampai juga kembali ke kota tercinta, Surabaya..

Demikian cerita perjalanan saya, semoga bisa membantu teman-teman Liburan Murah yang hendak pergi ke Shanghai, Hangzhou atau ke kota-kota lain di China.

Salam 🙂

Go Vietnam, Thanks to Air Asia…!!

Air Asia ke Vietnam

Akhirnya, bisa berangkat juga ke Vietnam, thanks to Air Asia…!!

Sudah menunggu-nunggu, kapan Air Asia akan mengobral tiket gratis, alias free seat lagi, di tahun 2010 ini.. Datang juga waktunya, pada 18 Mei 2010.. PROMO FREE SEAT AIR ASIA..!!

Prosesnya demikian teman-teman, agak sulit juga, karena selain kita harus menunggu tepat pada tanggal 18 Mei 2010 jam 12 malam, juga karena kita tidak bisa langsung melakukan proses booking, dikarenakan server Air Asia yang agak nge-hang. Masih bisa dimengerti sih, karena pasti banyak juga orang yang menginginkan tiket gratis, sama seperti saya, hehe…

Banyak yang bertanya ke saya, kenapa harus menunggu jam 12 malam, tepat pada saat promo *free seat* dimulai? Karena seperti biasa, saking banyaknya orang yang pengin dapet tiket gratis, ada kemungkinan hanya dalam beberapa jam, tiket yang kita inginkan SUDAH HABIS.. Bukan habis beneran, yang dimaksud habis di sini maksudnya tiket yang “free”, alias free seat / kursi gratis..

Contohnya tiket saya Air Asia ke Vietnam.. Bukan benar2 free juga, tapi masih sangat terjangkau, karena harga sebelum pajak, cuman sekitar Rp. 70 ribu rupiah.. Sedangkan keesokan harinya, setelah saya cek ulang, tiket sudah jadi Rp. 850 ribu rupiah. Total, berikut dengan pajak, saya dapat harga untuk SUB-KL-HANOI (Surabaya-Kuala Lumpur-Hanoi Vietnam) pp sebesar Rp. 800 ribu-an per orang..!! Murah bukan..?

Nah, kelanjutan dari cerita saya di atas, setelah sekian lama server sibuk, dan muncul gambar lebah, buzz..buzz..buzz… selama lebih dari 2 jam, akhirnya saya bisa melakukan proses booking tepat jam 2.30 pagi, dan itupun sempat mengalami beberapa kali hang dalam proses booking-nya.. Agak bersabar saja, sambil misalnya server hang, kita bisa melakukan proses reload / refresh pada web broses kita.. Dan finally, jam 4 dinihari, semua proses booking SELESAI…!!

Siiippp AIR ASIA, I can go to Vietnam next year, in 2011…!!

See you soon, Hanoi, Halong Bay, and Sapa Mountain, dan tunggu ceritanya tahun depan yaa.. 🙂