Thailand

Perjalanan di Kota Seribu Wat

Perjalanan di Kota Seribu WatPerjalanan di Kota Seribu Wat

Kali ini Saya bertiga dengan Sudar dan Fandy melancong ke Kota Seribu Wat, ya Wat dengan satu T bukan dua! Wat berarti kuil dalam bahasa Thai. Perjalanan kali ini juga hasil dari perburuan tiket murah dari salah satu low cost carrier favorit kami. Kami tiba di Bangkok pukul setengah 8 malam setelah menempuh sekitar empat jam penerbangan. Suvarnabhumi merupakan salah satu airport megah di Asia Tenggara, arsitektur megah dan tata ruang yang efisien menurut pendapat saya pertama kali mendarat disana. Kami bertiga langsung tidak membuang waktu dan mencari bus bandara yang menuju ke arah hotel kami menginap. Menunggu sekitar 20 menit, bus yang ditunggu pun tiba dan berangkat setelah menunggu sekitar 10 menit. Saya duduk di kursi depan sehingga dapat menyaksikan keadaan jalan di Bangkok pada malam hari, dari situ terlihat bahwa sistem transportasi disana cukup rapi dan kompleks. Jalan layang dan bebas hambatan bertumpuk dan bersilangan dengan jalur skytrain, walau sempat terjebak kemacetan tapi terlihat bahwa pengemudi disana jauh lebih tertib dan tidak berusaha menyalip melalui jalur yang tidak seharusnya. Setelah perjalanan selama empat puluh lima menit, bus kami tiba ditujuan akhir, ya hotel kami terletak di akhir rute bus ini, di kawasan backpackernya Bangkok.

Khao San Road memang terkenal sebagai kawasan jujukan para backpacker, suasananya mirip dengan keadaan di Poppies, Kuta , banyak pedagang sepanjang jalan, pub, café dan penjaja makanan bertebaran sepanjang jalan. Satu yang harus diingat bahwa kota ini anjing bertebaran dimana-mana, jauh lebih banyak dari populasi kucing jalanan. Apabila kebetulan berjalan-jalan di malam hari, terutama hari pertama dan mencari hotel melalui jalanan sepi, selalu lihat kebawah kalau tidak ingin kena jackpot seperti Fandy yang menginjak tahi anjing! Kawasan ini hidup hampir 24 jam, meski beberapa toko dan pedagang berhenti berjualan sejak pukul 11 keatas. Namun beberapa kedai makanan akan tetap buka hingga pelanggan terakhir selesai menikmati hidangan yang dipesan, tidak lupa banyaknya 7eleven bertebaran dikawasan ini menjamin Anda tidak akan kelaparan atau kebingungan jika hendak menghabiskan malam di Bangkok.

 Ketika kami bertiga selesai mandi, kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama di jalanan Khao San dan mencoba menikmati semua yang ditawarkan disini. Sudar yang sudah tak sabar mencoba Pad Thai, akhirnya memesan sepiring pad thai egg with pork, mirip Kwetiau tapi jika memilih pork pasti agak kaget dengan rasa dagingnya yang cenderung asam. Kemudian aneka barbeque, ada ikan, ayam, cumi, babi dan lain-lain yang ditusuk dengan lidi dan dipanggang setelah kita pesan disertai saus asam pedas. Ada pula jajanan yang mirip dengan martabak telor namun lebih kenyal dan cenderung manis, ada yang berisi pisang coklat, nutela, telor dan lain-lain. Ditengah kawasan tersebut kami dikejutkan dengan pedagang aneka serangga goreng, mengingat kami berlibur kesini untuk merasakan hal-hal unik, maka kami memesan sekantong serangga goreng campur. Selain serangga, ternyata ada juga kodok kecil yang digoreng utuh! Masing-masing kita coba dan berusaha untuk tidak muntah … hmm . . . ternyata rasanya seperti krupuk, kecuali ulat bambu yang teksturnya lebih berisi dan agak kesat seperti ayam. Sebagai penutup kami mencoba bir singha dan semangkuk tom yum seafood serta thai salad.


Paginya saya merasa membutuhkan bantuan yoghurt untuk mengatasi sembelit, problem langganan saat bepergian ke tempat asing. Ketika menuju 7eleven terdekat terlihat sekawanan bule mabuk yang berusaha merayu gadis didalam toko, Khao San banget! maka saya putuskan menuju ke 7eleven lainnya. Setelah itu kami segera beranjak menuju ke Grand Palace, berbekal dengan peta gratis dari bandara. Walau jarak dipeta tidak begitu jauh namun karena kami bertiga buta arah, maka perjalanan sempat terhambat karena kebingungan melihat nama jalanan yang didominasi aksara thai, sering disebut hanacaraka oleh Sudar. Sepanjang jalan kami melihat berbagai kegiatan warga disana, ada yang menjual lotre, aneka barbeque, dan beberapa dagangan lain, namun anehnya semua didominasi warna merah. Saya curiga apakah ini berkaitan dengan kampanye kaus merah yang sempat menimbulkan kerusuhan beberapa waktu lalu, namun hal ini terlupakan begitu kami tiba di Wat Ratchanadda yang begitu megah, namun sedang dalam pemugaran. Sambil mencari jalan menuju ke Grand Palace, kami sempatkan untuk mampir ke kuil yang berada disepanjang jalan untuk mengambil foto. Rupanya saat ini sedang berlangsung ritual atau upacara kematian karena kami melihat banyak orang berdoa dan rangkaian bunga disekitar kuil atau wat. Kejadian lucu terjadi saat melewati gang di sebuah kuil kami, terutama saya diteriaki sekelompok pria berseragam. Duh! Kenapa lagi nih? Aku salah apa? Pikirku. Ternyata topi yang saya bawa terjatuh dan mereka bermaksud mengingatkan … fiuh … kirain salah apa lagi, secara mereka berseragam dan langsung berteriak dengan bahasa yang tidak dimengerti sambil menunjuk-nunjuk kearah saya hahahaha . . .

Ternyata perjalanan ke Grand Palace yang menurut peta tidak terlalu jauh dari hotel jadi jauh karena kami yang buta peta dan melenceng dari jalur yang seharusnya. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah taman kota yang bisa dikenali lokasinya dengan mencocokan aksara thai dengan yang ada di peta. Mirip teknik tebak 10 perbedaan, hanya saja kita berusaha mencari persamaan aksara di pintu taman dengan aksara di peta lokasi dugaan kita. Ternyata kami berada di Rommaneenat Park, dan kami gunakan untuk mengistirahatkan kaki dan meminta bantuan GPS agar dapat menunjukkan rute yang benar ke Grand Palace. Setelah melepas lelah dan menemukan arah tujuan. Kami beranjak dan sampai ke perempatan besar dimana

kami dapat melihat kompleks istana dan Wat Pho diseberang jalan. Saya yang terlihat memegang peta langsung dihampiri seseorang yang berbasa-basi dan berkali-kali mengatakan “lucky tourist” pada kami. Saya yang tertahan dengan seorang yang ternyata sopir tuk-tuk ditinggal oleh Sudar dan Fandy yang asyik menyaksikan segerombolan tupai berlompatan di Pohon besar di Saranrom Park. Lepas sopir tuk-tuk, seseorang disana menghampiri kami yang terlihat kebingungan sambil memberikan saran tempat-tempat yang harus kami kunjungi di Bangkok dan memberi tahu bahwa Grand Palace baru buka pukul setengah satu karena ada perayaan Buddha hari ini. Ternyata dia adalah seorang tentara yang sedang tidak bertugas, dan sedang menunggu anaknya yang akan mengikuti jejaknya masuk ke militer. Dari orang ini pula kami mengetahui bahwa hari itu adalah hari besar Buddha yang artinya semua tiket masuk ke kuil gratis! Kami beruntung katanya, setelah memberikan saran tempat-tempat dan transport yang harus kami ambil sambil mengajarkan “Sam Sip Baht” atau 30 baht untuk berkeliling dengan tuk-tuk ke lima lokasi secara beruntun. Dia akhirnya iba dan menawar sopir tuk-tuk yang berbasa-basi dengan saya sambil memperkenalkan bahwa kami adalah temannya sehingga si sopir mau saja ditawar dari 100 baht ke 30 baht!


Perjalanan menggunakan tuk-tuk merupakan pengalaman menarik, karena selain kendaraan ini khas Thailand, cara mengemudi yang mirip bajaj di Jakarta merupakan hiburan tersendiri. Perhentian pertama adalah ke Sitting Buddha, yang merupakan kuil kecil. Disini Sudar sempat mendapat malu karena seperti biasa insting narsis mengarahkannya untuk berfoto sedekat mungkin dengan patung Buddha duduk di platform yang agak tinggi dan ternyata merupakan tempat duduk para biksu setelah kami ketahui dari sang pengurus kuil yang ramah. Rupanya dengan tarif semurah itu sang sopir berusaha menawarkan rute tambahan ke toko-toko permata untuk mendapatkan voucher bbm gratis. Awalnya kami tidak keberatan, toh selain

untuk cuci mata, kami membantu sang sopir mendapatkan bensin gratis. Namun setelah diantar ke toko ketiga, kami mulai agak terganggu karena kali ini kami diharuskan berkeliling selama kurang lebih 10 menit di toko kain yang tidak begitu besar dan ketika kami keluar untuk membeli makanan … eh, malah disemprot! Jadilah kami sambil menggerutu menunggu didalam toko selama 10 menit dan begitu keluar kami minta diantarkan ke Marble Temple.

Marble Temple atau nama aslinya Wat Benchamabophit, agak berbeda dari kuil kebanyakan disana yang cenderung berupa satu bangunan masif persegi. Sedangkan kuil ini terdiri dari sayap kiri dan sayap kanan simetris dengan bangunan utama menjulang tinggi dan semua dindingnya terbuat dari marmer. Puas menikmati

kuil ini kami segera beranjak ke gerbang keluar untuk mencari tuk-tuk kami yang akan mengantarkan ke Grand Palace karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sial! Ternyata tuk-tuk kami pergi begitu saja, mungkin karena dia jengkel di toko kain yang terakhir hampir tidak mendapatkan jatah voucher bbm atau juga karena tarif 30 baht tadi. Tidak ambil pusing kami berkeliling kompleks kuil untuk mencari bus stop dan bertanya pada orang lokal. Setelah sukses berbahsa tarzan, kami putuskan mencoba naik bus ke grand temple di bus stop tadi. Setelah naik ke bus yang berhenti dan bertanya pada kondektur, ternyata tujuannya bukan Grand Temple dan kami pun ditepikan oleh sang sopir di dekat bus stop lain sambil diberi petunjuk nomor bus dan arah jalan yang benar. Kami mencoba lagi mengikuti petunjuk tadi dan naik ke bus nomor 70 yang kebetulan sedang melintas. Begitu saya mendekati kondektur dan mengkonfirmasi tujuan Grand Palace dengan menggunakan gambar di peta,

Kondektur berkata “Long bat, long bat!”

“hah? Tanya Grand Palace kok jawabane Low Batt?” celetukku.

“Long Bat, Bat, Bat krukrawakakakukukukapap!” jelasnya lagi.

“Hmmm … wrong bus?” tebakku.

“Long Bat.” Kata kondektur sambil manggut-manggut.

“Oalah ternyata salah bus lagi!” kataku.

Kondektur mendekati sopir dan meminta bantuannya untuk mengetahui bus yang benar.

“Bat, Bat” sambil menunjuk nomor bus di kaca sang sopir mengarahkan telunjuk ke arah bus stop yang ada diseberang jalan.

Ada apa dengan huruf R dan S di thailand ya? pikirku. Saya artikan bahwa kami berada di nomor bus yang benar namun di arah yang salah untuk ke tujuan Grand Palace. Akhirnya bus menepi dan kami lagi-lagi diturunkan ditepi jalan. Kami pun menyebrang ke arah bus stop yang ditunjuk tadi namun tidak melihat nomor bus yang sama di papan bus stop. Saya dan Sudar sempat berdebat mengenai apakah bus yang benar akan melewati bus stop ini atau tidak, sedangkan Fandy mencoba menawarkan menggunakan taksi. Akan tetapi tidak berapa lama bus nomor 70 yang kami tunggu-tunggu tiba dan kami segera naik dan lega setelah dikonfirmasi kondektur bahwa ini bus dengan jurusan yang benar.


Setibanya di kawasan Grand Palace kami memutuskan mengisi perut terlebih dahulu. Disana kami mencoba kacang rebus yang gemuk-gemuk dan putih bersih hmmm… aneka seafood tusuk, es lilin kola, sebelum makan siang disebuah kedai chinese food. Selanjutnya kami memasuki komplek Grand Palace yang benar-benar luas dan indah sehingga harga tiket yang cukup mahal terbayar lunas dengan pengalaman ini. Setelahnya kami sempat mendapatkan pengalaman disodori river tour oleh 2 orang pemandu istana gadungan yang saling pamer pangkat hanya dengan menunjukkan pin yang tersemat dibaju mereka. Kami putuskan berjalan kaki ke dermaga untuk river tur sendiri, namun karena cukup melelahkan seharian berkeliling akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa tuk-tuk. Sesampai di dermaga kami menyebrangi Chao Praya menuju ke Wat Arun yang juga dikenal sebagai Temple of Dawn. Melihat langit sudah mulai senja, kami kembali ke dermaga untuk mencari perahu untuk berkeliling di kanal-kanal Bangkok dan melihat beberapa tempat wisata yang berada di tepi sungai/kanal. Di dermaga paling ujung yang berada di area Wat Arun kami menaiki perahu panjang untuk bertiga dan berkeliling ke sungai dan kanal di Chao Praya selama sejam. Walau agak membosankan, setidaknya kami melihat bagaimana kehidupan masyarakat Bangkok yang cukup dekat dengan sungai dan kanal yang tidak dapat ditemui di Jawa.

Selanjutnya kami turun di dermaga lain untuk melanjutkan perjalanan menuju ke arah pusat kota. Tujuan kami adalah Siam Paragon. Di Siam Paragon, kami tidak menemukan sesuatu yang menarik selain mall besar yang serupa dilain tempat. KAmi putuskan untuk menyusuri jalan menuju ke MBK yang berjarak seblok dari Siam Paragon, sepanjang jalan banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya sehingga trotoar sempit maki sempit dengan berjubelnya pejalan kaki yang lewat disitu. Sesampai di MBK yang ternyata sudah hamper tutup karena sudah makin petang, kami memutuskan mengisi perut dahulu. Sayangnya kali ini pesanan saya mengecewakan, maksud hati menikmati degan buah yang segar dengan daging kelapa muda seperti yang dipesan Fandi dan Sudar, eh … ternyata buah saya saking mudanya tidak berdaging! Karena pusat perbelanjaan ini sudah akan berhenti beroperasi, kami putuskan kembali ke hotel dengan taksi, yang lagi-lagi tidak mengerti nama jalan mereka sendiri?!? Setelah akhirnya kami menyetujui bahwa tujuan kami adalah gaosan-lot?!?

Sampai di hotel kami mandi dan bersiap untuk bertualang lagi disekitar khaosan road untuk mencicipi kuliner yang belum kami coba kemarin malam. Fandy memutuskan menikmati Thai-massage disebelah cewek Prancis yang belle tapi pas parle anglais, sedangkan saya dan Sudar menyusuri jalan dan lorong sekitar untuk mencari Tom Yum Goong otentik.walau perut masih kenyang dari makan malam di food court MBK tadi, tapi melihat banyaknya jajanan dan street food khas thai yang bertebaran, kami tiak kuasa untuk tidak mencobanya. Malam ini kami tidur dengan perut yang penuh dan berharap keesokan hari bisa bangun pagi untuk melanjutkan petualangan di hari terkahir kami di Bangkok.

Pagi harinya kami semua bersiap dan mengepak barang-barang kami di kamar hotel, karena hari ini kami check-out sekaligus menuju ke tempat tujuan akhir kami di Chatuchak. Sambil menenteng tas punggung kami masing-masing, kami menyusuri lorong khaosan road terakhir kalinya menuju ke jalan utama. Tujuan pertama kami adalah kuil Wat Pho untuk mengunjungi patung Buddha tidur terbesar. Bunyi koin-koin yang dimasukkan ke mangkok-mangkok perunggu dan dikumpulkan oleh pengurus kuil ke dalam baskom membuat suasana didalam kuil tersebut makin menarik. Kami sempatkan mengelilingi area kuil dan akhirnya memutuskan untuk sarapan pagi di penjaja makanan siap saji sekitar kuil. Dari situ kami lanjutkan perjalanan menuju Chatuchak market dengan taksi. Kurang lebih 45-60 menit kemudian kami tiba di daerah Chatuchak yang sangat padat dengan turis dan masyarakat lokal.

Pasar akhir pekan Chatuchak ini berupa bangunan semi permanen yang tertata di lapangan yang lebih luas dari lapangan bola. Begitu banyak macam dagangan yang ditawarkan, dari kerajinan tangan, aneka macam hasil seni, baju, makanan, hingga aneka binatang yang dimaksudkan untuk dipelihara. Ya, binatang yang dijual tidak hanya berbagai anjing dan kucing, namun juga aneka bajing dan reptil yang dilabeli keras untuk tidak diambil gambarnya, mungkin menghindari protes dan hujatan organisasi penyayang binatang yang tidak bakal setuju dengan praktik ini. Di pasar ini pula kami berkeliling sampai kaki mati rasa, bukan saja karena bingung mencari barang untuk oleh-oleh tapi juga karena kami kehilangan arah ketika Fandy memutuskan untuk menunggu kami disalah satu area. Karena amat besar dan banyak lorong-lorong yang walau telah dipetakan dan tersedia peta khusus bagi para pelancong agar tidak tersesat, saya dan Sudar dua kali mengelilingi area pasar dari dalam maupun luar untuk menemukan lokasi pertemuan yang disepakati pada awalnya. Namun, kami juga menemukan beberapa minuman unik dan segar yang tidak dapat kami temukan di Indonesia serta pencuci mulut lezat yang terbuat dari buah labu kecil dan custard diatasnya… yumm! Setelah merasa cukup berbelanja, kami merasa waktunya untuk mengakhiri kunjungan di pasar Chatuchak, dan setelah berunding, kami rasa ada cukup waktu mengunjungi satu mall lagi di pusat kota.


Berdiri di pinggir jalan dan mencari taksi untuk mengantarkan kami ke Platinum Shopping Center ternyata cukup sulit, bukan karena jarang taksi yang melintas, namun karena rata-rata taksi yang kami minta untuk mengantarkan kesana menolak menggunakan argo bahkan langsung menolak. Setelah beberapa taksi tidak bersedia, kami putuskan untuk menyetujui membayar 100 baht untuk kesana, ternyata alasan mereka menolak kami karena area kota sangat padat dan macet. Di Taksi yang kami tumpangi ini sempat terjadi beberapa hal konyol masalah bahasa, mulai dari tujuan ke Platinum yang ternyata dibaca Pratinam oleh sang sopir hingga nama kawasan yang dilewati saat itu, bahkan ketika sopir taksi memberikan operator di hpnya untuk berbicara dengan kami. Saat itu kami agak khawatir dengan kemacetan yang membuat kami memikirkan ulang tujuan untuk mengunjungi Platinum, namun kami perlu tahu dimana posisi kami saati itu untuk mengambil keputusan selanjutnya. Disekitar jalan yang kami lalui tidak terlihat tulisan atau nama gedung yang mudah dibaca untuk dijadikan petunjuk.

“What road? What street? Here! Here! Sambil mengacungkan tangan kemana-mana ala tarzan agar sang sopir menangkap maksudnya.

“no engglit, no engglit” jawab si sopir.

“cak tratatatas parapapapap kapakapa kap” lanjutnya.

“Hah, maksudnya apa ya? Tanyaku ke Sudar dan Fandy.

Sang sopir dengan sigap langsung memencet tombol-tombol hpnya dan rupanya menghubungi operator taksi untuk dibantu menerjemahkan permintaan kami.

“Can you tell the driver, where are we now?” tanyaku ke operator yang Inggrisnya juga pas-pasan dan aksen aneh pula.

“wat wat, kap kap” jawabnya

Saya serahkan hp ke sang sopir dengan maksud agar si operator dapat menanyakan nama jalan ke sopir dan kemudian menyampaikan pada kami. Eh!… ternyata diluar bayangan sang sopir malah asik ngobrol dengan si operator di hp sambil bersenda gurau.

“Jangkrik, kok malah curhat? Ngomong opo iku rek? Ga genah kok!” celetukku sambil menole

h ke belakang kea rah Fandy dan Sudar duduk.

“hahaha … ditinggal curhat mbek sopire” kata Sudar.

Dan benar setelah itu hp dimatikan dan langsung masuk ke saku tanpa ada tanda-tanda kami akan diberi tahu jalan yang kami lalui saat ini.

“No engglit, no engglit, hahaha . . . thai thai” kata sang sopir.

“De’e bilang de’e orang Thailand, nanya kamu orang apa?” kata Sudar padaku.

“hebat kon isa ngerti bahasane?” timpalku.

“Indonesia” jawabku ke sopir taksi.

“Ooo Indonesia . . . Kris Jon, Kris Jon!” kata sang sopir.

“Ya ya . . . Chris John, from Indonesia” jawabku.

Ternyata orang Thai memang kenal dengan Chris John dan gemar onton tinju karena ini bukan pertama kali kami mendapat jawaban serupa saat memperkenalkan diri dari Indonesia.

Beberapa saat kemudian kami melewati stasiun skytrain yang lengkap dengan papan namanya. Dari situ kami akhirnya tahu lokasi kami saat itu dan segera berputar otak untuk diturunkan ke stasiun skytrain selanjutnya yang menuju ke bandara karena waktu yang tersisa sebelum boarding flight kami hanya sekitar 3 jam. Saya akhirnya bernegosiasi dengan sang sopir untuk merubah tujuan awal kami dari Platinum menuju ke Ratchaprarop station dengan jurus ala tarzan dan berhasil! Setelah tiba distasiun tujuan dan berterima kasi dengan sang sopir, mulailah kam berjalan cepat menuju ke stasiun skytrain Bangkok, berbeda dari MRT di Singapura atau monorel di Malaysia yang hanya berada satu level diatas jalan raya, di Bangkok skytrain berada 3 level diatas jalan raya dan tidak dilengkapi escalator, alias hanya ada tangga manual! Hal ini wajar, karena melihat system jalan di Bangkok yang padat dan penuh jaringan jalan layang bertumpuk yang tidak memungkinkan untuk dibangun jalur rel layang yang hanya berada satu level dari jalan raya. Untungnya setelah sampai di level 2, tempat mesin token skytrain otomatis dan kantor petugas skytrain berada, disediakan escalator menuju platform skytrain di level 3. Setelah akhirnya merasakan semua moda transportasi yang ada di Bangkok kami akan menuju Suvarnabhumi untuk pulang.

Sesampai di Stasiun terakhir di bawah bandara Suvarnabhumi, kami melemaskan kaki dan mulai bergantian menyegarkan diri di toilet untuk mencuci muka, berganti pakaian dan mengisi botol minum kami masing-masing. Setelah itu kami mencari makan malam sebelum check-in, karena waktu masih tersisa 2 jam dan sempat pula diajak berbahasa thai disangka orang lokal oleh pelayan restoran. Kami menyempatkan menghabiskan sisa uang kecil dan koin untuk oleh-oleh. Setelah melihat jam menunjukkan jam hanya tersisa 1 jam lebih, kami cepat-cepat menuju ke counter untuk check-in dan sempat pula Saya dan Sudar mengambil foto diatas Tuk-Tuk yang disediakan di lounge. Setelah kami menuju ke bagian imigrasi dan melihat antrian yang sangan panjang dan padat, barulah kami merasa was-was apakah waktu yang tersisa cukup sebelum gate flight kami ditutup! Setelah melewati antrian panjang dan berbagai pemeriksaan lainnya, kami bertiga segera berlari menuju ke gerbang penerbangan kami yang ternyata masih amat jauh dan menghabiskan waktu sekitar setengah jam dengan berlari bahkan diatas conveyor!

Keberuntungan ternyata masih berpihak pada kami karena penerbangan kami terlambat sekitar 20 menit dan kami sempat beristirahat sebentar di ruang tunggu setelah berlarian takut ketinggalan pesawat. Begitu kami duduk di bangku pesawat, perasaan lega dan lelah bercampur. Benar-benar pengalaman yang mengesankan di kota seribu wat. Kami harap lain waktu dapat berkunjung lagi untuk menikmati keindahan alam dan pantainya yang tersohor.

the end.

Tips untuk berjalan-jalan di Bangkok :

1. pastikan survey tempat-tempat wisata melalui website resmi dimana tarif masuk/tiket wisata ditulis jelas untuk menghindari salah bayar

2. buku panduan perjalanan murah cukup berguna sebagai panduan Anda sebelum bertanya ke orang lokal

3. usahakan bepergian pada saat hari besar Buddha untuk yang tertarik pada hal-hal yang berbau budaya untuk dapat masuk ke kui;-kuil cantik secara gratis 🙂

4. hindari bepergian dengan tuk-tuk apabila waktu terbatas karena Anda akan dibawa menuju toko perhiasan dan tekstil yang dimana pengemudi tuk tuk mendapatkan voucher bbm yang cukup memakan waktu

5. sempatkan mampir ke weekend market Chatuchak dimana semua yang ada cari ada disitu bahkan lebih, ditambah lagi aneka jajanan dan makanan yang tersedia beragam dan nikmat!

6. apabila ada kesulitan lebih bijak menemui polisi atau petugas resmi pariwisata di tempat resmi untuk menghindari penipuan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

BANGKOK ON THE CHEAP

BANGKOK ON THE CHEAP

Seorang teman pernah berkomentar kepada saya, “Kamu mesti gajinya udah gede banget sampai bisa liburan ke luar negeri lama sekali”. Komentar ini diberikan sepulang saya berlibur bersama istri di Bangkok selama 8 hari saja.
Now, lepas dari serius atau bercanda atau menyindir atau ngeledek, taken at face value intinya adalah implikasi kalau bisa berlibur ke luar negeri mesti punya modal duit gede. Well, at least dalam kasus berlibur ke Thailand, this simply is not true.
Sayang sekali memang, bahkan mereka yang sudah sering ke Bangkok pun seringkali terpaku menggunakan jasa travel agencies dan tinggal di hotel-hotel berbintang simply karena tidak tahu alternatif lainnya.
To repudiate that remark about “gaji gede” (karena memang alangkah jauhnya itu dari kenyataan), dan untuk menjawab permintaan beberapa kawan yang – seperti saya – suka (atau baru ingin) traveling murah dan perlu saling bertukar info, here it is fellas, Bangkok On The Cheap (note: Tulisan ini ditujukan kepada target audience di atas.. So those of you who’ve been there, done that, bought the T-shirt, no need to smirk and remark, “Aahh..itu mah gue juga tahu…” This Note isn’t for you then).

FIRST OFF, GETTING THERE

Untuk yang ke Bangkok dengan biaya dinas, tentunya hal ini tidak masalah. Tinggal bilang ke travel agent langganan kantor ybs apakah mau naik Garuda atau Singapore Airlines atau Thai Air atau Malaysian Airlines, those flagship airlines. Mahal gak masalah karena dibayari kantor.
Untuk yang bepergian dengan biaya sendiri dan bukan orang sugih atau yang dari bapak atau embahnya sudah sugih, tidak ada pilihan lain, harus rajin browsing cari info tiket murah, di internet (travel websites ataupun airlines’ websites) ataupun di surat kabar.

Biasanya kalau bicara tiket murah, top of mind-nya adalah Air Asia. While it is true that Air Asia often offer very low-priced tickets, it is advisable to also browse other airlines’ ticket prices. It may be worth it. Saya pernah dapat tiket ke Bali dari Lion Air yang jauh lebih murah daripada tiket Air Asia.
Baiknya lakukan browsing ini sejak jauh jauh hari. Biasanya makin jauh jarak waktu dari kita book tiket sampai ke tanggal keberangkatan, makin rendah harga tiket yang bisa dapatkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan kalau mau dapat tiket murah, carilah waktu penerbangan yang bukan ‘peak season’. Naturally, di peak seasons harga-harga tiket (dan penginapan) akan melambung. Peak season ini bisa berarti peak season di Indonesia (Ramadhan, Idul Fitri, akhir tahun, musim libur anak sekolah, or even simple weekends) ataupun peak season di negara tujuan (do your homework kalau mau irit! Pelajari dulu.).

Terakhir, walaupun tidak terlalu ada hubungannya dengan biaya, saya rekomendasikan untuk pergi ke Bangkok sekitar bulan Oktober – Januari, saat di Bangkok sedang ‘cool season’. The hot season sekitar Februari – Mei bikin cuaca di Bangkok sangat sumuk, lebih sumuk dari Jakarta. Kurang asyik buat jalan outdoor. Sedangkan wet season the rest of the year juga bisa jadi masalah saat kita sedang jalan outdoor, di pantai misalnya.

DI BANGKOK

Nah, assuming kalian sudah dapat tiket murah ke Bangkok, langkah pengiritan pertama sebenarnya sudah bisa dimulai sejak dari Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, dalam hal transportasi dari bandara ke kota/tempat menginap.
Biasanya selepas kita dari imigrasi bandara, setelah kita mengambil bagasi kita akan menjumpai banyak tawaran airport taxi, baik dari petugas-petugas resmi berseragam maupun dari papan-papan pengumuman. Taxi-taxi yang ditawarkan ini biasanya adalah ‘limousine taxis’ yang menggunakan mobil-mobil ‘mewah’. Now, while these limousine taxis are quite comfortable and reliable, I personally don’t think they deserve the 2000 Baht price tag (sekitar Rp 600ribu. Of course, kalau ke sini biaya dinas ya silakan saja pakai dan klaim ke kantor biayanya). Plus, manja kali pun…

Alternatif yang lebih murah dari limousine taxis ini adalah naik taxi-taxi biasa saja. Ignore tawaran-tawaran limousine taxis dan berjalanlah menuju taxi stands dan antri taxi biasa di situ. Dari bandara ke kota paling sekitar 600 Baht. Cocok banget kalau bepergian beberapa orang, jadi bisa share ongkosnya.
Kalau mau lebih ngirit lagi, carilah pool bis resmi bandara/Airport Express. Tarifnya ke kota tidak jauh-jauh dari 150 Baht (sekitar Rp 45ribu). Seperti juga bus Damri bandara di Jakarta, ada beberapa trayek bis bandara di Bangkok. Pilihlah bis yang ke arah tempat penginapan yang sudah di-booking. FYI, ‘backpacker center’ di Bangkok ada di area Khao San Road, Banglamphu. Ambil bus yang ke sana, kalau tidak salah nomornya AE1. Beli tiket di ticket booth, nanti akan diperiksa di atas bis.

Oya, satu lagi keuntungan naik bis bandara ini, di atas bis biasanya ada brosur-brosur penginapan murah. Di brosur itu terkadang dilampirkan voucher diskon di hotel tertentu. Terakhir ke sana, di atas bis sedang ada voucher diskon 10% di grup hotel Sawasdee (Hotel Sawasdee ini punya sekitar 4 hotel di area Khao San Road – Soi Rambutri sendiri. Recommended pick: Sawasdee House yang ada di jalan Soi Rambutri. Nice location dengan sidewalk terrace café yang sangat asyik untuk nongkrong well into the night).

the guesthouse is never close. It’s always farsidewalk cafe Sawasdee guesthouse, Soi Rambutri

PLACES TO STAY – LOW LOW LOW END
Kalau membicarakan penginapan murah meriah di Bangkok, tidak bisa tidak kita akan menyebut Khao San Road (atau Thanon Khao San, Thanon = Road/Jalan in Thai) di bilangan Banglamphu. Khao San Road ini adalah secarik jalan yang kiri-kanannya dipenuhi backpacker hotels/hostels/motels/guesthouses. Soal harga, you can go from as low as 200 Baht (1 Baht sekitar Rp 300, jadi mulai sekarang itung sendiri ya..) for a basic room tanpa AC tanpa TV dan shared bathroom to around 500 Baht for a room with air conditioner with private hot-cold shower and no TV to around 1200 Baht for a hotel room with AC, hot-cold shower and TV (and sometimes these upper end hotels have swimming pools too).

My suggestion is to take the middle road: Kamar seharga 400 – 500 Baht semalam dengan AC, private shower and no TV. Why? You don’t need to pay hundreds of Baht extra for a TV that you will rarely watch (since you’ll most likely be out of your room to enjoy your holiday) or simply won’t understand anyway (jarang ada siaran bahasa Inggris, kebanyakan local news dan sinetron atau game show berbahasa Thai). Dan kenapa tidak ambil kamar yang harga paling murah? Simply soal shared bathroomnya aja yang buat gue bermasalah. See, males banget kalo mesti antri kamar mandi, apalagi pagi-pagi pas perut ini suka rese. Dan lebih males lagi kalau udah di kamar mandi ditungguin orang antri di luar, apalagi kalau sampai diketok, apalagi kalau kita lagi nongkrong sambil baca majalah di dalam . Alasan lainnya adalah Air Conditioning yang, untuk hawa Bangkok yang cenderung panas, untuk saya jadi esensial.

Nah, yang recommended hotel mana? No worries. Tinggal jalan dulu aja datengin satu-satu hotel/hostel/motel/guesthouse sepanjang Khao San Road ini (jangan lupa juga untuk cek Soi Rambutri, sebuah jalan yang parallel bersebelahan persis dengan Jalan Khao San ini yang juga dipenuhi penginapan backpackers dan other backpackers’ facilities, tapi lebih tenang, lebih leafy/berpohon dan tidak se-hectic Thanon Khao San) Jangan cepat-cepat menentukan pilihan. Jangan malu malu menanyakan tarif kamar dan minta lihat kondisi kamarnya sampai kamu temukan yang paling cocok untuk selera dan kantongmu.

Tip kecil dalam mencari kamar: Sempatkan juga untuk melihat-lihat guesthouses yang ada di gang-gang di belakang dan sekitar Thanon Khao San ini. Biasanya tempat yang ada di gang-gang itu (yang jaraknya paling Cuma satu menit jalan kaki dari Khao San’s main road) menawarkan kondisi kamar yang sama dengan harga yang lebih murah daripada hotel/hostel/guesthouses yang berada tepat di Thanon Khao San.

And to the snobs among you, yang mengernyitkan hidung begitu mendengar kata “penginapan murah”, jangan salah, tempat-tempat ini terjaga kebersihannya dan bukan tempat mesum. Khao San bukan kawasan lampu merah seperti Patpong, Nana Entertainment Center atau Soi Cowboy. With all its merriment and excitement and liveliness, it is still perfectly okay for a family to bring their kids here.

Please note that it is recommended to book ahead to ensure you have a room ready at least for the first one or two nights that you are in Bangkok. Most hostels/guesthouses prefer internet booking, so check out their websites (look ‘em up in your Lonely Planet guidebook)


To me, Khao San (and Soi Rambutri, for that matter) is not just a place to stay. Daerah ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas turis yang membuat saya bisa merasa betah 2 hari nangkring di area ini saja tanpa beranjak ke mana-mana. Selain penginapan murah, Khao San dan Soi Rambutri ini penuh dengan sidewalk cafes, restoran, money changers, the ever present Seven Elevens, pedagang kaki lima yang menjual berbagai pernak-pernik turis, makeshift bars/bar ‘kagetan’ (yang cuma dengan bermodal meja, beberapa kursi plastic yang digelar di trotoar, dan tentunya berbotol-botol booze dan voila! You got yourself a bar!), clubs, travel agents, secondhand bookshops, dan tentunya great street food scene.

Check out the photos below:

bar kagetan pinggir jalan Khao San. Cuma modal meja, kursi plastik, minuman, gelar pinggir jalan, jadilah bar…Salon pinggir jalan yang benar benar pinggir jalan karena di atas trotoar. Tapi dibackingi oleh perusahaan besar (either obat rambut atau salon chain besar)Bapak yang berdandan a la Rama Aipama ini kerjaanya tiap malam nyetir becaknya yang ditempeli macam macam baliho up and down Khao San – Soi Rambutri sebagai billboard berjalan mengiklankan dari minuman sampai event di club2 yang ada di Khao San ituMau rambut dikriwil kayak di Kuta? Bisa juga di Thanon Khao San iniSidewalk cafe…Thanon Khao SanEven Captain Jack Sparrow could not resist dasaran jualan hasil bajakannya di trotoar Thanon Khao San

Khao San Road ini makin lama makin meriah suasananya. Lepas jam 9 atau jam 10 malam justru makin ‘hidup’, with the bars and sidewalk cafes blasting music both from live bands (acoustic or electric) or prerecorded music. It’s so much fun, well into dawn

I said everything, didn’t I?Street food action around Khao San – Soi Rambutri is superb! Murah dan uenak. Seafood mantap!! Kari wuenak! Icy cold beer a blissSayang belum sempat ngicipin taste-nya Ice Cream Turkey itu kayak apa

EATING
Aaahh…makan… A means to survival? Well yes, and so much more. Eating to me is a celebration, where every meal is (or should be) a feast onto itself. And in Bangkok, such celebration, such feast, need not cause you to pay through the nose because there are simply so many cheap places to eat in Bangkok. Just stick to street food action and you can eat well – very well, in fact – for around 30 Baht sekali makan. Gak jauh beda (bahkan lebih murah) dari di Jakarta kan? Harga segitu bisa untuk menu yang bervariasi mulai dari Phad Thai (mie goring), tom yam, berbagai barbecue-an, berbagai gorengan, berbagai kari, dan – a must try – nasi campur Thailand. You can eat well tanpa sekali pun masuk ke sebuah ‘proper’ restaurant.

I have no special recommendation soal street food action ini. Just give it a go and you will be delighted by the value for money you will get and the merriment the food will bring into your mouth. Oh well, kalaupun ada rekomendasi, pergilah ke street food yang ada di pasar-pasar tradisional, yang banyak dikunjungi orang local. Di situ taste-nya umumnya lebih original Thai – spicy, very spicy – dibanding foodstalls yang ada di daerah turis yang mungkin more or less sudah disesuaikan dengan lidah bule.

Untuk yang suka lihat foto-foto street food action, bisa cek albumku di FB ini yang judulnya BANGKOK STREET FOOD GALORE. Banyak di situ to whet your appetite. Kalau ditaruh di sini terlalu penuh jadinya.

TRANSPORTASI DI BANGKOK
Simple rule: Sepanjang hari, hindari naik taksi atau bis atau tuk tuk ke pusat keramaian karena kemungkinannya besar banget kamu akan get stuck di tengah kemacetan yang gak kalah sinting dengan di Jakarta dan menyianyiakan berjam-jam waktu yang berharga di jalan.
Good thing that Bangkok has other developed modes of transportation. Gunakan subways, skytrains, the Chao Phraya Express Boat, dan small canal boats to go places. Very cheap and quite reliable and those save you from maddening traffic.

Tinggal di Thanon Khao San atau Soi Rambutri selain murah juga cukup praktis karena dekat dengan beberapa sarana transportasi alternatif.

Chao Phraya Express Boat
Untuk naik perahu menyusuri sungai Chao Phraya yang membelah kota Bangkok ini – misalnya mau ke kuil Wat Arun, Wat Pho, Grand Palace, Chinatown, atau sekedar mau menyusuri sungai saja dari ujung ke ujung, dari Khao San jalan kakilah ke pelabuhan Phra Athit sekitar 20 menit kurang. Menyusuri Chao Phraya dari Phra Athit sampai pelabuhan Tha Thien paling-paling menghabiskan biaya sekitar 20 Baht dan sekitar15 menit.

Phra Athit, Pelabuhan kapal ferry Chao Phraya dekat Khao SanChao Phraya Express BoatChao Phraya Express BoatBoats along the Chao Phraya river

Canal Boats
Kanal kanal atau sungai-sungai kecil (in Thai = Khlong) ‘membelahi’ kota Bangkok seperti pembuluh darah dalam tubuh. Sungai-sungai kecil ini digunakan oleh penduduk Bangkok sebagai sarana transportasi instead of sebagai penghalang ke tujuan. Transportasi di kanal – kanal ini menggunakan perahu-perahu kecil yang berfungsi layaknya angkot di Jakarta.

Beruntung ada satu ‘terminal’ khlong boat ini di dekat Khao San, yaitu ‘terminal’ Khlong Saen Saep. Dari Khao San bisa jalan kaki, tapi agak jauh memang. Kalau untuk pertama kali mungkin lebih baik pakai tuk tuk dulu (dari Khao San ke terminal ini tidak macet koq) ke sana biar nggak kesasar. Bayar paling-paling 40 Baht. Dari terminal Khlong Saen Saep ini naik khlong boat bisa misalnya ke MBK (yang seterusnya bisa nyambung jalan kaki ke pusat perbelanjaan lain seperti Siam Square atau Paragon). Minta saja untuk turun di terminal Tha Hua Chang, biayanya Cuma sekitar 8 Baht. Atau kalau mau ke Pratunam biayanya 10 Baht.
Enaknya naik khlong boat ini selain cepat adalah kita bisa lihat kehidupan sehari hari penduduk Bangkok baik yang komutan naik perahu ini maupun mereka yang tinggal di pnggir sungai sungai kecil ini.

“Terminal” perahu kanal/khlong boat Khlong Saen Saep dekat Khao San.Naik khlong boat ini menyusuri kanal-kanal kota Bangkok sambil nginjeni kehidupan Bangkokian pinggir sungaiStill Khlong Saen Saep. Mau naik khlong boat ke pelabuhan Tha Hua Chang, lanjut jalan kaki ke MBK – Siam Station. Dari station itu bisa lanjut ke mana aja

Tuk Tuk
Well, gunakan tuk tuk hanya untuk bepergian jarak dekat saja dan di daerah daerah yang tidak ada macet. Plain and simple. Dan jangan lupa kudu nawar yang kenceng.

Tuk Tuk. Well..bajaj..

Kereta Api – Skytrains and Subways (Metro, kalau orang Thai nyebutnya)
Salah satu hal pertama yang perlu kamu lakukan begitu tiba di bandara Suvarnabhumi adalah ambil salah satu peta jalur kereta api dalam kota Bangkok di salah satu tourist information booths atau airport bus ticket booths. Pelajari route-routenya and realize that those routes can be very helpful for you to go places in a fast and convenient way. Tarifnya pun murah, ke mana mana antara 15 Baht sampai 40 Baht. Ya gak jauh jauhlah harganya dengan tarif KRL Express AC di Jakarta.

Kalau di atas kita sempat sebut-sebut terminal khlong boat Tha Hua Chang, terminal Tha Hua Chang itu letaknya dekat sekali dengan National Stadium skytrain station. Pelajari peta jalur kereta yang kamu punya dan kamu akan lihat bahwa dari situ kamu bisa mencapai ke mana-mana, seperti the famous Chaktuchak weekend market, Suan Lum night bazaar, Hualamphong main station, Sukhumvit, atau Lumpini park. Sekali lagi, pelajari petamu!

Inside Bangkok’s sky trainStill on the sky train, but the subway/metro interior actually looks pretty much like this too

Ditulis oleh:

Immanuel Sembiring

Salah satu member group FB Liburan Murah yang sudah melanglang buana dalam & luar negeri 🙂

Air Asia Surabaya Bangkok

Air Asia Surabaya Bangkok

Cihuuuiiiy, akhirnya sebelum berangkat ke Thailand, sudah ada flight murah dari Air Asia, langsung Surabaya ke Bangkok..!!

HotelsCombined.com - Hotel Price ComparisonUntuk yang baru pertama kalipun ke Bangkok, tidak usah takut, karena Air Asia sudah memberikan banyak sekali panduan untuk kita yang baru pertama kali ke Bangkok.

Silahkan bisa dibaca sendiri di link ini:

http://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/go-thailand-go-bangkok-informasi-dasar-tentang-bangkok/194040697295683

Atau bisa juga membaca catatan perjalanan, berikut dengan perincian harga, selama saya berlibur ke Bangkok:

*CATATAN PERJALANAN KE BANGKOK*

*PERINCIAN HARGA SELAMA KE BANGKOK*

Haloo Bangkok, pasti tambah banyak warga Surabaya / Jawa Timur yang liburan ke Bangkok nantinya, hehehe…

Happy Traveling !

INFO PENERBANGAN / TIKET PESAWAT TERMURAH, klik di sini:

http://liburanmurah.info/tiket-murah-cheap-flights

Catatan Perjalanan – Liburan Murah ke Bangkok-Pattaya cuma 2 juta ALL IN + Mr. Sam Best Driver in Bangkok…!!

Liburan Murah ke Bangkok-Pattaya

Berikut catatan perjalanan penulis selama berlibur ke Bangkok – Pattaya.

DAY 1 (14 Januari 2011)

Berangkat dari Airport Juanda dengan pesawat Air Asia menuju ke Bandara Suvarnabhumi Bangkok, sekitar 3,5 jam. Sesampainya di sana, langsung segera mengurus imigrasi dan ambil bagasi, untuk kemudian menuju ke lantai 2 Gate 4, yaitu ke tempat meeting point dengan driver yang sudah kita kontak dari Surabaya. Tidak begitu lama, akhirnya ketemu juga dengan B-Boy, anak dari Mr. Sam, BEST DRIVER in Bangkok (menurut teman-teman dari kaskus), yang akan mengantar kita menuju ke Prince Palace Hotel. Tepat jam 10 malam, kita akhirnya sampai juga di hotel, perjalanan kurang lebih sekitar 1 jam dari airport.

Setelah sampai di hotel, kita langsung check-in dan titip bagasi di kamar. Berhubung sudah malem tapi perut masih lapar & masih pengin jalan-jalan sebentar, kita coba untuk berjalan kaki keluar hotel, menuju ke jembatan menyeberangi sungai. Kebetulan sebelumnya pada waktu perjalanan sudah mendekati hotel, kita melihat ada pasar malam, yang juga menjual beraneka ragam Bangkok Street Food, baik makanan yang berupa snack, maupun makanan yang membuat perut kenyang, seperti nasi, mie, dan lainnya.

DAY 2 (15 Januari 2011)

Pagi hari setelah breakfast, karena banyak tempat yang mesti dituju, jam 9 pagi kita sudah keluar dari hotel. Menurut info dari internet, hotel Prince Palace ini letaknya sudah lumayan dekat dengan Wat Pho, Grand Palace, dan Wat Arun, jadi kita memutuskan untuk naik tuk-tuk saja. Jalan kaki ke depan hotel, dan kita coba menawar salah satu tuk-tuk yang lagi parkir di jalan.

Tempat yang pertama kita tuju yaitu Wat Pho, yang merupakan salah satu kuil tertua di Bangkok. Tujuan utama apabila kita ke Wat Pho ini yaitu patung Buddha tidur yang sangat besar. Selain itu kita dapat menjelajahi seluruh area Wat Pho, yang cukup luas juga.

Tempat kedua, kita menuju ke Wat Arun. Di sini kita harus menyeberang kapal dahulu dari dermaga Ta Thien Pier, yang letaknya tidak jauh dari Wat Pho, cukup berjalan kaki santai sekitar 10 menit. Beli tiket dahulu 3 BAHT, kemudian tunggu kapal yang datang. Ada petunjuk bahasa Inggris yang cukup jelas di atas kapal, “Wat Pho – Wat Arun“.

Setelah itu, dari Wat Arun kita harus balik lagi ke Ta Thien Pier. Karena sudah siang, sekitar jam 1, kita memutuskan untuk makan siang dulu. Baru kemudian berjalan kaki, lumayan jauh juga, sekitar 20 menit’an, menuju ke pintu masuk utama Grand Palace / Istana Raja. Sebenarnya letak Grand Palace ada persis di depan Ta Thien Pier, tapi pintu masuknya yang berada di sisi depan, jadi mau tidak mau kita harus berjalan kaki menuju ke pintu masuk. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam di Grand Palace, kita balik lagi ke hotel dengan menggunakan tuk-tuk.

Agenda terakhir setelah dari Grand Palace, last but not least, sore harinya setelah bobok-bobok siang di hotel, kita menuju ke Wat Saket atau disebut juga Golden Mount. Letaknya ternyata tidak jauh dari Prince Palace Hotel, cukup 10-15 menit jalan santai dari hotel. Dulunya Wat Saket ini merupakan tempat tertinggi di Bangkok, dan dari sini kita dapat melihat seluruh kota Bangkok dari atas kuil.

DAY 3 (16 Januari 2011)

SHOPPING TIME ! Pergi ke Chatuchak Weekend Market, MBK Mall, dan Siam Paragon..

Karena kita memilih hotel di Prince Palace yang tidak dilalui BTS, maka kita harus naik kapal terlebih dahulu, yaitu dari Bobae Pier yang terletak di samping hotel, untuk menuju ke pier terdekat, kurang lebih 2 stop dari Bobae Pier, untuk menuju ke BTS National Stadium. Setelah sampai di National Stadium, kita dapat dengan mudah menuju ke tempat-tempat belanja tersebut. MBK Mall, letaknya persis di depan National Stadium, sedangkan Siam Paragon terletak di Siam BTS, 1 stop dari National Stadium BTS. Khusus untuk Chatuchak Weekend Market, sesuai petunjuk dari oom Google, paling gampang yaitu menuju ke Mo Chit Station, yang dapat dituju dari intersection di Siam BTS.

DAY 4 (17 Januari 2011)

Hari ini pagi-pagi jam 7.30 kita sudah harus berangkat menuju ke Pattaya, sekaligus check-out dari hotel, karena setelah kembali dari Pattaya kita akan langsung menuju ke airport. Sebelumnya tidak lupa untuk foto-foto hotel Prince Palace, baik foto narsis maupun foto-foto untuk dibagi ke teman-teman Liburan Murah 🙂

Acara hari ini yaitu pergi ke:

(1) Bee Farm, peternakan lebah di Pattaya

(2) Floating Market, pasar terapung di Pattaya

(3) Laser Buddha, tempat wisata yang tergolong cukup baru di Pattaya, yaitu gambaran Buddha yang di-laser di salah satu bukit di Pattaya.

(4) Pattaya Beach yang harus mampir tentunya, meskipun masih kalah jauh sama pantai-pantai yang ada di Bali.

(5) Mini Siam, terdapat miniatur bangunan-bangunan terkenal, baik di Thailand, maupun negara-negara lain di dunia.

Semua tempat di atas mungkin agak sulit dituju apabila kita menggunakan mode transportasi umum. Karena itu kita kembali menggunakan jasa sewa mobil minivans dari Mr. Sam. Oh iya, buat temen-temen yang mau pakai jasa sewa mobil dari Mr. Sam, bisa coba contact di alamat email: [email protected]

Dan pada sore hari setelah seharian pergi ke 5 lokasi di Pattaya, jam 17.30 akhirnya kita sampai juga ke Airport Suvarnabhumi, untuk kemudian naik pesawat Air Asia yang membawa kita pulang ke Surabaya. HOME SWEET HOME… 🙂

Untuk Informasi HOTEL MURAH di BANGKOK, klik di bawah ini:

Informasi, Review, dan Perbandingan HARGA HOTEL di BANGKOK

Butuh INFO HOTEL di BANGKOK? Klik PILIHAN HOTEL di bawah ini.

(1) PERBANDINGAN harga hotel TERMURAH

(2) REVIEW hotel dari tamu yang sudah menginap

(3) FASILITAS HOTEL tersedia lengkap di LINK HOTEL DI BANGKOK di bawah ini.

Berbagai PILIHAN HOTEL di Bangkok:

Prince Palace Hotel Bangkok
City Lodge Sukhumvit Soi 9 Hotel Bangkok
City Lodge Sukhumvit Soi 19 Hotel Bangkok
The Key Hotel Bangkok
Sam Lodge Hotel Bangkok
Convenient Park Hotel Bangkok
Unico Express Hotel Bangkok
Grand President Hotel Bangkok
Bangkok Loft Inn Bangkok
Phra Nakorn Norn Len Hotel Bangkok
Park Plaza Sukhumvit Hotel Bangkok
SilQ Hotel Bangkok
City Point Hotel Bangkok
Legacy Suites Hotel Bangkok
Anantara Bangkok Sathorn Hotel Bangkok
Kingston Suites Hotel Bangkok
On 8 Sukhumvit Hotel Bangkok
Lamphu Tree House Hotel Bangkok
Lullaby Inn Bangkok
Sacha’s Hotel Uno Bangkok
Shanghai Mansion Hotel Bangkok
President Park Hotel Bangkok

Perincian Biaya Liburan Murah ke Bangkok-Pattaya cuma 2 juta ALL IN + Mr. Sam Best Driver in Bangkok…!!

HotelsCombined.com - Hotel Price Comparison Perincian Biaya Liburan Murah ke Bangkok

Setelah menulis liburan ke Malaysia cuman 1 juta-an (belum termasuk lain-lain siihh), sekarang penulis coba mengulas tentang catatan perjalanan penulis ke Bangkok, total biaya keseluruhan, untuk kali ini sudah termasuk SEMUANYA lhoo yaa, tidak sampai 2 juta rupiah..!!
Beneran ?

Lhoo, masih tanya lagi, IYAA.. 🙂

Dan yang diulas di sini bukan berlibur ala backpacker, melainkan berlibur ala flashpacker (setingkat lebih tinggi dari backpacker). Dengan trip perjalanan yang murah meriah, tetapi tetap mengandalkan kenyamanan, yaitu menginap di hotel berbintang empat (PRINCE PALACE HOTEL) dan bepergian dengan transportasi murah meriah ( tuk-tuk, perahu, dan BTS Skytrain ) sampai dengan moda transport yang nyaman menggunakan minivans dari Mr. Sam, BEST DRIVER in Bangkok (menurut info dari teman-teman kaskuser 🙂

Seperti biasa, berikut perincian harga selama kita berlibur ke Bangkok (kurs waktu itu 1 BAHT = Rp. 300) :

* Flight Air Asia : Rp. 750 ribu nett pp SUB – BANGKOK (sudah termasuk bagasi 15 kg). Padahal flight Air Asia ini masih belum harga termurah, jadi sebenarnya kalo mau menunggu, masih bisa dapet harga dari AA yang lebih murah lagi, hehehe.. 🙂

* Hotel : Rp. 750 ribu per malam untuk kamar suite 2 bedroom (4 orang include breakfast) di PRINCE PALACE HOTEL. Jadi harga per orangnya untuk total 3 malam sekitar Rp. 560 ribu-an.

* Biaya tempat wisata:

1) Wat Pho: 50 BAHT (15 ribu)

2) Wat Arun: nggak masuk ke dalam, cuman foto2 dari luar, jadi nggak tahu harganya berapa 🙂

3) Grand Palace: 350 BAHT (105 ribu)

4) Mini Siam: 300 BAHT (90 ribu)

* Biaya makan:

1) Depot kecil sekitar 30 – 60 BAHT (9 ribu s/d 18 ribu)

2) Makan di BANGKOK STREET FOOD murah meriah, nasi putih 5 BAHT, lauk per bungkus 10-20 BAHT, total misalnya buat berdua 2 nasi putih, 2 lauk sayur, dan 1 lauk daging / ayam, sekitar 50 BAHT / 25 BAHT per orang (per orang Rp. 7500.- )

* Biaya Transportasi:

1) BTS Skytrain: waktu itu cuman naik dari National Stadium ke Mo Chit, sekali jalan 35 BAHT (Rp. 10.500,-)

2) Tuk-Tuk antara 60 – 100 BAHT (atau lebih), tergantung tempat yang dituju.. (Rp. 18 ribu s/d 30 ribu)

3) Kapal / Perahu : kita waktu itu 2 kali naik kapal, yaitu menyeberang dari Wat Pho / Ta Thien Pier ke Wat Arun sekali jalan 3 BAHT ( cuman 900 perak! ), dan naik kapal dari Bobae Pier (samping hotel Prince Palace) ke Pier yang berada di dekat Mall MBK / National Stadium BTS seharga 9 BAHT – Rp. 2.700,- (melewati 2 pier stop dari Bobae Pier)

4. Yaah, klo yang ini transportasi kita yang paling mahal, dan juga paling nyaman, yaitu sewa vans dari Mr. SAM. Biaya sewa minivans, muat sampai 10 orang, sekitar 4000 BAHT (sekitar 1,2 juta dibagi 10 orang = Rp. 120 ribu). Perincian tempat-tempat yang dituju dengan minivans, bisa lihat catatan perjalanan kita di posting berikutnya. 🙂

Setelah di-TOTAL BIAYA PERJALANAN, harga untuk perjalanan liburan ke Bangkok kali ini tidak sampai 2 juta, yaitu antara 1,6 juta s/d 1,9 juta rupiah, sudah termasuk (1) FLIGHT, (2) HOTEL, (3) MAKAN, (4) TRANSPORTASI, (5) JALAN-JALAN & MASUK KE TEMPAT WISATA !!

Tinggal nambah uang sedikit beli oleh-oleh buat sanak keluarga, saudara, teman-teman, tetangga, karyawan, eeeiiitttsss, lebih mahal oleh2’nya malahan daripada biaya traveling di atas, hehehe..

Informasi, Review, dan Perbandingan HARGA HOTEL di BANGKOK

Butuh INFO HOTEL di BANGKOK? Klik PILIHAN HOTEL di bawah ini.

(1) PERBANDINGAN harga hotel TERMURAH

(2) REVIEW hotel dari tamu yang sudah menginap

(3) FASILITAS HOTEL tersedia lengkap di LINK HOTEL DI BANGKOK di bawah ini.

Berbagai PILIHAN HOTEL di Bangkok:

Prince Palace Hotel Bangkok
City Lodge Sukhumvit Soi 9 Hotel Bangkok
City Lodge Sukhumvit Soi 19 Hotel Bangkok
The Key Hotel Bangkok
Sam Lodge Hotel Bangkok
Convenient Park Hotel Bangkok
Unico Express Hotel Bangkok
Grand President Hotel Bangkok
Bangkok Loft Inn Bangkok
Phra Nakorn Norn Len Hotel Bangkok
Park Plaza Sukhumvit Hotel Bangkok
SilQ Hotel Bangkok
City Point Hotel Bangkok
Legacy Suites Hotel Bangkok
Anantara Bangkok Sathorn Hotel Bangkok
Kingston Suites Hotel Bangkok
On 8 Sukhumvit Hotel Bangkok
Lamphu Tree House Hotel Bangkok
Lullaby Inn Bangkok
Sacha’s Hotel Uno Bangkok
Shanghai Mansion Hotel Bangkok
President Park Hotel Bangkok