Snorkeling

Wisata pulau derawan, sangalaki, maratua, kakaban, gusung – kalimantan timur

Wisata Pulau Derawan

Pulau Derawan terletak di Kalimantan Timur. 3 jam perjalanan dengan speed boat dari Tarakan. Ada 2 tempat penyeberangan menuju Derawan. Satu dari Tarakan dan satu lagi dari Berau. Beberapa pulau-pulau yang terkenal disekitar Pulau Derawan ini adalah Maratua, Sangalaki, Kakaban dan Nabuko. Sebetulnya ada beberapa pulau lagi disekitar Pulau Derawan seperti Pulau Panjang, Pulau Raburabu, Pulau Samama, dan beberapa pulau gosong karang seperti gosong Muaras, gosong Pinaka, gosong Buliulin, gosong Masimbung, dan gosong Tababinga.

Wisata pulau derawan

Dari Jakarta ada penerbangan langsung ke Tarakan, transit sekitar satu jam di Balikpapan. Dari Tarakan melanjutkan perjalanan dengan speedboat sekitar 3 jam. Cukup melelahkan memang, tunggu hingga tiba di Derawan.

Hari ini sangat cerah, doa saya memang sebelum pergi. Memohon agar udara panas. Pulau Derawan sudah tampak dari kejauhan, air laut terlihat dangkal sehingga karang-karang dibawah boat kami terlihat. Sekitar satu jam setengah lagi sunset pertama di Pulau ini akan kami lihat.

Usai mendapatkan kamar, kami berhamburan menuju pantai yang letaknya tepat didepan penginapan kami. Sebagian teman sudah tak sabar berenang-renang sore ini. Agak sangsi dengan awan tebal diufuk langit yang akan menghalangi indahnya matahari terbenam sore ini.

Betul! matahari terbenam terhalang awan tebal, tapi tidak mengurangi cantiknya langit diawan, sekelebat cahaya orange menghiasi langit sore itu.

Tidak seperti biasanya malam-malam dipulau tanpa banyak kegiatan yang bisa kami lakukan. Malam ini malam pertama kami di Derawan, menjadi malam istimewa. Kebetulan ada teman yang membawa senter untuk diving, kami yang tidak bisa diving bisa menikmati cahaya senter itu untuk snorkeling ke 3 dermaga diseputaran Pulau Derawan. Berenang bersama penyu dan binatang malam dalam air. Bukan cuma bisa menikmati keindahan bawah air dimalam hari tetapi ketika kami memandang langit diatas kami, bintang-bintang cerah bertebaran. Milky Way.

Pukul 11 malam ini kami berenang mengelilingi 3 dermaga yang letaknya cukup berjauhan. Sempat kami berputar-putar hilang arah saat hendak menuju dermaga titik awal kami berenang. Karena didermaga ke-3 ini tidak ada tangga, tidak memungkinkan kami naik. Malam ini tidur pulas setelah lelah dalam perjalanan dan snorkeling selama 3 jam, sudah dapat oleh-oleh pula dari laut, beberapa besetan karena gesekan karang atau kaki dermaga.

Pagi setelah sarapan kami beranjak ke Pulau Sangalaki untuk melihat penakaran penyu. Sekitar 30 menit dengan speedboat, kapal merapat dipulau itu. Saya tidak tertarik dengan penakaran penyu, lebih tertarik dengan spot yang dari kejauhan saja terlihat cantik. Pantai di Sangalaki panjang dan lebar, ada satu dermaga tak jauh dari perahu merapat. Dermaga itu sudah tak terpakai tapi jalurnya cukup panjang. Gradasi air laut biru muda hingga biru tua, langit yang sangat terik dan pasir putih pulau ini. Ikan pari manta biasa berkelompok di perairan pulau ini dan dapat berkumpul hingga 20 ekor pari pada saat terang bulan atau pun pasang. Dari Sangalaki kami beranjak ke Pulau Kakaban.

Pulau Kakaban diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah pulau yang memeluk.  Pulau Kakaban memiliki keunikan tersendiri. Dalam pulau ini terdapat danau air payau. Ini sebab disebut memeluk (*memeluk danau*). Danau ini konon terbentuk sejak 2 juta tahun yang lalu, di danau ini kita bisa berenang bersama ubur-ubur tanpa takut tersengat. Tidak hanya danau didalam pulau tersebut yang menarik, bersnorkeling diseputaran pantai Pulau Kakaban juga indah. Beragam karang dan hewan-hewan laut. Dihiasi tebing-tebing karang yang dalam, pasti indah kalau saya dapat menyelam mengitari tebing karang tepat dibawah saya.

Speedboat kami meninggalkan Pulau Kakaban dan biota lautnya yang menakjubkan, kali ini kami akan merapat ke Pulau Maratua.

Pulau Maratua salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau berpenduduk ini dilingkar luar pantainya berdiri resort. Resort menjorok ke arah laut, saat kami tiba sebagian bawah dari resort ini dikelilingi pasir karena air sedang surut, dan sebagian lagi tertutup air laut. Dibagian bawah resort yang terendam air ini  banyak ikan-ikan besar dan kecil berenang dan akan mendekat apabila kita melempar makanan.

Menjelang sore kami kembali ke Pulau Derawan. Setelah menikmati hidangan makan malam, beberapa teman berburu penyu bertelur malam ini. Biasanya petugas dari WWF akan memberitahu apabila ada penyu yang siap bertelur.

Pagi di Pulau Derawan bagi yang beruntung bisa bangun sedikit lebih pagi sekitar jam 6.30 pagi hingga pukul 8.00 punya kesempatan untuk berenang bersama penyu-penyu disekitar dermaga depan penginapan. Penyu-penyu akan mendekat apabila kita sodorkan daun pisang kesukaan mereka. Hari ke-3 kami tidak terlalu padat acara. Hingga menjelang pukul 01 siang kami hanya bermain diseputaran pulau. Sebagian teman berenang didermaga sambil bersnorkeling. Rencananya siang ini kami akan bersnorkeling di salah satu spot snorkeling tak jauh dari Derawan. Mereka menyebutkanya dengan Garden. Di spot snorkeling ini kami melihat beberapa anemone dan ikan pari, arusnya cukup kuat sehingga kami terbawa arus dan menjauh dari speedboat.

Sebelum kami bersnorkeling di Garden di kejauhan dari Pulau Derawan, kami melihat sinar terang dari biasan sinar pantai berpasir putih. Itu pasti Pulau Gusung, dugaan kami. Betul itu adalah Pulau Gusung, pulau tanpa satu pohon pun disana, hanya ada air laut yang dangkal dan pasir membentang panjang dan lebar.

Usai snorkeling di Garden kami merapat di Pulau Gusung. Semua teman berhamburan dipulau tak perpohon itu. Alur pasir membentuk seperti bekas sapuan gelombang. Apabila laut pasang pulau ini tak terlihat karena tertutup air laut.

Rupanya Pulau Derawan ingin memberikan malam terakhir yang mengesankan bagi kami semua. Saat kami sedang makan malam tiba-tiba seorang petugas WWF memberitahu kami untuk hening karena ada penyu yang sedang berjalan menuju tepat didepan kamar penginapan mencari tempat untuk bertelur. Setelah hamper 2 jam penyu itu berputar-putar mencari dan mencoba menggali lubang namun penyu itu gagal menemukan tempat yang cocok untuk menggali lubang untuk bertelur, tentu karena area penginapan tidak ada pasir yang bisa digali hingga dalamnya mencukupi kebutuhan si penyu.

Walau penyu itu gagal bertelur didepan penginapan kami tapi pemandangan luar biasa dan suasana mencekam malam terakhir kami di Derawan. Amaziiinng.

~  http://langkahkecil.com/ ~

Karimunjawa :D

Karimunjawa

Karimunjawa

Karimunjawa, yang mungkin sudah sering kali kita dengar dari mulut ke mulut ataupun pernah kita jumpai beberapa artikel yang membahas tentangnya di majalah travelling. Terkenal akan areanya yang terdiri dari beberapa pulau kecil tak berpenghuni, dan semakin ternama dengan lautan yang sebening kristal. Para penggemar snorkeling pun tak kalah marak mengunjungi Karimunjawa yang memiliki tipikal terumbu karang berukuran raksasa.

Kalau dibandingkan dengan laut di daerah timur Indonesia, Karimunjawa memiliki sensasi natural tersendiri karena hampir semua pulau-pulau kecil di area itu berbatasan langsung dengan laut lepas. Jadi kalau kita sedang bersantai di pantai salah satu pulau, sering kali akan mendapati pemandangan laut lepas, ombak yang bergulung-gulung, bahkan kalau memang beruntung Anda bisa menyaksikan rombongan lumba-lumba dan ikan-ikan lainnya.

Sebenarnya, nama Karimunjawa digunakan sebagai nama pulau utama di area tersebut. Sedangkan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Kecil, Pulau Besar, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, Cemara Besar, dan lainnya dapat diraih dengan menggunakan kapal nelayan setempat. Dari Jepara ataupun Semarang, masing-masing kota awal pemberangkatan ke Karimunjawa memiliki jadwal layar yang berbeda. Kalau memang mau travelling ala backpack, sangat disarankan berangkat dari Jepara. Harga untuk ferry kelas ekonomi cuma dibandrol Rp35.000,- (6 jam perjalanan). Dibandingkan dari Semarang yang cuma menyediakan kapal cepat (3 jam perjalanan) dengan harga Rp125.00,- sekali jalan. Untuk detail jadwal berangkat kapal bisa di-check di situs ini

http://www.karimunjawa-ticketing.co.id/

Untuk tempat menginap di Karimunjawa, banyak penduduk lokal yang mengubah rumahnya menjadi guest house, kalau mau di hotel juga ada beberapa hotel mulai dari harga Rp150.000,-/malam. Kalau baru kali ini Anda bertualang di daerah yang dikelilingi perairan, sangat disarankan untuk coba stay di “Wisma Apung” dengan harga Rp140.000,-/malam (harga Mei 2010). Oh, perlu saya ingatkan, karena Karimunjawa menggunakan jalur listrik bawah air and jauh dari pulau Jawa, listrik di sini baru ada mulai dari jam 6 malam. Jangan lupa charger HP Anda selama siang hari – tidak perlu membawa HP ke setiap pulau karena signal sangat sedikit.

Belum ke Karimunjawa namanya kalau belum mencoba makan “Pindang Serani” asli buatan penduduk Karimunjawa. Kalau ingat acara travellingnya Fauzi Baadillah sewaktu dia ke Karimunjawa, dia mampir di salah satu guest house dan minta ke ibu empunya guest house untuk memasakkan pindang serani spesial ala Karimunjawa. Rasa kuah asam pedas yang segar berpadu dengan ikan langsung tangkapan laut khusus yang sama sekali tidak amis hehe.. saya sendiri habis 1 panci!!

Kalau Anda penggemar photo hunting, jangan lupa untuk mampir ke Tanjung Gelam untuk hunting sunset dan pemandangan sekitar yang berasa seperti kita sedang terdampar di pulau Robinson Cruise. Pohon-pohon kelapa di sepanjang pesisir pantai, air jernih, dan karang-karang yang berdeburan ombak berubah menjadi objek sempurna untuk foto. Tanjung Gelam berada di bagian atas pulau Karimunjawa, dan bisa Anda raih dengan perahu nelayan.

Mampir juga di Menjangan Besar untuk mengunjungi penangkaran hiu. Bisa foto bersama hiu di penangkaran dengan membayar Rp5.000,- . Asalkan sedang tidak luka, jangan takut sama hiunya karena hampir semua hiu disana masih muda dan jinak. Saya dekati saja semua hiu nya pada pergi semua, atau mungkin hiu nya mikir ada paus sedang menginvasi kandang mereka haha.. J

Lebih baik pergi ke Karimunjawa dalam grup yang banyak orangnya supaya harga share untuk mengunjungi antar pulau kecil dengan perahu nelayan lebih murah. Dan juga sewa guest house bisa lebih murah pastinya. Bulan yang baik untuk ke Karimunjawa sekitar Maret – Juni/Juli. Lewat dari bulan itu, arus pasang laut kadang susah diprediksi dan jadwal kapal bisa berubah ataupun dibatalkan sewaktu-waktu L

Well, selamat berlibur di Karimunjawa! 😀