Melantjong Petjinan ke Pulau Madura (hari Pertama)

Melantjong Petjinan ke Pulau Madura

“Ole olang parauna alajara..

Ole olang alajar dari Sorbaja..

Ole olang alajar dari mor dajah..

Ole olang nuju da pulau madura..”

Begitu terdengar suara merdu dari Pak Lintu, dosen UK Petra yang sangat ahli tentang Madura.

Yaah, hari ini, tepatnya tanggal 23 Juli 2011, kita akan berwisata bareng Melantjong Petjinan ke Pulau Madura.

Hmm, Madura?

Yang ada dalam bayangan kita mungkin image Madura yang gersang dan tandus, dengan orang asal Madura yang kasar. Ternyata nggak sama sekali lhoo.. Kebanyakan dari orang Madura yang kita temui ramah-ramah, tidak ada bedanya dengan orang di pulau Jawa. Cuman menurut Pak Lintu, orang Madura memang terkenal dengan harga dirinya yang kuat & sangat melindungi istri / wanita. Jadi apabila dua hal tersebut dilecehkan, waah, tahu sendiri nanti akibatnya, hehe..

Perjalanan kita ke Pulau Madura ini memakan waktu 2 hari, jadi nantinya kita akan menginap di kota Sumenep. Dan dalam 2 hari itu ternyata lumayan banyak tempat wisata yang kita kunjungi.

Karena ikut tour dari Melantjong Petjinan, maka tempat wisata yang dikunjungi juga berhubungan dengan jejak peninggalan peranakan Tionghoa di Indonesia, khususnya di pulau Madura ini.

Hari Pertama di Pulau Madura (23 Juli 2011)

Setelah kumpul di Jl. Bibis no. 3, kita menyeberang ke Pulau Madura dengan naik jembatan Suramadu (ya iya lah, masak mau berenang? Hehe..) Setelah itu perjalanan darat selama kurang lebih 2 jam, kita menuju ke Sentra Batik di daerah TanjungBumi.

BATIK TANJUNGBUMI

Di sini merupakan salah satu sentra batik di Madura, yang masih asli manual alias pakai tangan, atau sering disebut juga batik tulis (lain dengan batik print). Di sini kita dijelaskan berbagai tipe batik dari Madura, dan kita dapat mengintip sedikit tentang proses pembuatan batik.

Melantjong Petjinan ke Pulau Madura

Setelah selesai dan kenyang dijamu makan camilan oleh tuan rumah pemilik batik ini, kita balik lagi ke bus dan melanjutkan perjalanan yang kurang lebih juga sekitar 2 jam, menuju ke Pasongsongan, tempat penduduk lokal yang dulunya merupakan para musafir dari Tiongkok.

Sepanjang perjalanan melalui pantai utara Madura, kita disajikan berbagai pemandangan alam yang menakjubkan, mulai dari pantai utara Madura yang indah di sebelah kiri jalan, dan pemandangan pegunungan kapur di sebelah kanan, hampir menyerupai situs pegunungan kapur di GWK (Garuda Wisnu Kencana) Bali, dengan skala yang lebih kecil.

PASONGSONGAN – MADURA

Sampai di sini, langsung kita menyerbu kotak makan siang, saking laparnya, hehe.. Bisa pilih 2 macam, yaitu dengan lauk ayam atau ikan. Karena berada di daerah pantai, kebanyakan peserta tentu memilih ikan yang baru digoreng dan tentunya masih fresh dari laut. Setelah selesai makan, kita berbincang-bincang dulu dengan pemilik rumah, pak Haji Achmad Tumyadi, yang meskipun kulitnya sudah berwarna sawo matang, tapi dari mata beliau masih terlihat sipit.. 🙂

Banyak peninggalan Tionghoa di rumah beliau ini, seperti piring-piring keramik dari Tiongkok, dan juga penataan rumah yang mirip dengan rumah kuno orang Tionghoa di Surabaya.

Leyeh-leyeh sebentar, kemudian kita segera menuju ke tujuan berikutnya, yaitu pantai Lombang, atau nama keren’nya Lombang Beach..!!

PANTAI LOMBANG

Ada apa di Pantai Lombang?

Hmmm, pantai? Yap beneeerr, hehe.. 🙂

Pantai yang indah, berpasir putih, dengan deretan cemara udang yang berjejer di pinggir pantai. Pantainya masih alami, dengan hamparan pasir putih yang luas. Ombak tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan untuk anak-anak kecil bermain di pinggiran pantai. Seandainya saja ada investor yang buat hotel di pinggir pantai Lombang ini, saya rasa banyak yang mau menginap di sini.. 🙂

Kita nyantai di pantai Lombang ini sampai dengan jam 5 sore, sehingga bayangan sunset juga terlihat di sisi barat pantai..

Dari pantai Lombang, kita makan dulu di Rumah Makan 17 Agustus, yang sekaligus merupakan kediaman bapak Edhi, salah satu budayawan Sumenep. Setelah selesai makan, kita berbincang-bincang sebentar dengan pak Edhi, sebelum akhirnya kita menuju ke Hotel di Sumenep, yaitu Hotel C1 untuk beristirahat..

Capek, bersambung di hari kedua yaa.. 🙂

Hari kedua lebih seru lagi pastinya, karena kita akan berkunjung ke Asta Tinggi, melihat kota Sumenep dari atas bukit, pergi ke Masjid Jami & Kraton Sumenep, dan terakhir kita akan mengunjungi Vihara Avalokitesvara yang unik, yaitu Vihara di mana terdapat Pura, Klenteng, dan Musholla (masuk rekor MURI sebagai vihara terunik, karena di dalamnya terdapat bangunan Musholla dan Pura). Juga terdapat Candi Pamekasan di dalam Vihara, yang merupakan miniatur Candi Borobudur.

Tertarik?

🙂