Trekking Gunung

Kemah di Ranu Kumbolo

Kemah di Ranu Kumbolo

hmm.. duit lagi mepet, tapi dah kebelet pengen liat tempat bagus dan nyantai leha-leha…

Apakah sempat terpikirkan seperti itu?? πŸ˜‰ Kalau iya, bagaimana kalau mencoba camping di alam bebas yang murah meriah dan di tempat yang super keren?! πŸ˜‰

Saya baru saja camping kemah di Rabu Kumbolo bulan lalu, well sebenarnya niat awal mau mendaki nyampe ke puncak Semeru yang kita semua tahu adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Tapi apa daya, baru setengah jalan saja niatan awal itu sudah terkikis dengan medan menanjak yang saya belum pernah mencoba sama sekali, hah! Sekalipun sudah persiapan jogging selama 2 minggu sebelum berangkat, ternyata masih kurang πŸ˜€ apalagi kalau stamina sudah drop dulu haisss..

HARI I

So, perjalanan awal dengan teman-teman dari komunitas backpacker couchsurfing.org , kami mencapai Ranu Pani (desa terakhir sebelum mengawali trek Semeru) dengan motor. Masing-masing dari kami sudah membawa backpack kita masing-masing yang berisi tenda, matras, dan logistik lainnya. Perjalanan dari Malang menuju Ranu Pani via Tumpang kami mulai di sore hari.. kami juga melewati ladang-ladang penduduk di dekat Bromo dan juga melewati gunung Bromo. Minimnya penerangan dan jalan yang berkelok plus rusak, membuat saya dan teman-teman cukup was-was πŸ˜› 2 jam berikutnya, sampailah kami di Ranu Pani..

Oh ya, sebelum berangkat mintalah surat keterangan sehat dari puskesmas atau dokter langgananmu. Karena waktu diperiksa di pos pendakian, mereka akan meminta bukti surak keterangan sehatmu! Begitu tahu teman-teman dapat surat keterangan dengan harga sangat murah 3000-8000 rupiah, saya merasa bodoh sekali membayar surat keterangan sehat sebesar 50000 rupiah :O bleehhh!

Sesampainya di Ranu Pani hari sudah malam, dan ternyata salah satu teman kami termasuk dalam tim SAR dan kenal dengan penduduk setempat. Jadilah kami menetap untuk semalam dan dijamu dengan sangat istimewa disana πŸ˜€ Nasi putih dan sayur putih pun terasa nikmat! Ditambah kita makan sambil duduk mengelilingi perapian di cuaca yang sangat dingin (hello, ini sudah di gunung ya toh!).. jarang-jarang liburan di kota bisa makan model gitu πŸ˜‰ oh dan satu hal, saya tidak mengerti bahasa mereka! hahaha..

Kemah di Ranu Kumbolo

 

HARI II

Keesokan paginya, lagi-lagi kita disambut hangat oleh yang punya rumah dengan bergelas-gelas teh hangat dan sarapan lagi πŸ˜€ haha.. hidup makmur sungguh di desa ini! Saya memperhatikan, mereka tidak ribet dengan urusan uang, kerja, kekuasaan, ataupun hal-hal materi yang kita ributkan dibandingkan di kota besar. Mereka bekerja di ladang untuk hidup hari ini, makan hari ini, dan istirahat bersama keluarga. Dan esoknya bekerja lagi untuk hidup besok, makan besok, dan sperti itu terus. Sesekali juga ada anak-anak yang ke desa sebelah untuk bersekolah dengan truk besar ataupun berjalan kaki. Hidup sungguh tenang dan bebas disana πŸ™‚ dan lebih-lebih, begitu sederhana dan tidak ribet πŸ˜› sekalipun saya bilang enak, mungkin 1 minggu masih betah.. lebih dari itu, pasti saya sudah ngomel mencari internet dan sebagainya hahaha πŸ˜€

ok, kembali ke cerita perjalanan…

sesudah berpamitan sama pemilik rumah, kami berjalan ke pinggiran desa lengkap dengan peralatan kami ke arah pos akhir pendakian. Disana teman saya yang mengurus perijinan dan pendataan, saya cuma bengong-bengong saja melihat begitu banyak pendaki yang tampaknya mantap semua untuk mencapai Semeru. Seketika saya merasa ciut dan kagok hehe.. saya sama sekali tidak ada pengalaman mendaki gunung kecuali Bromo saja hahaha!Banyak juga turis asing berdatangan sendiri ataupun rombongan. Dan yang lebih takjub, saya berbincang dengan cowok Prancis yang memakai kaki palsu (ya, kaki palsu!!!)Β dan dia begitu antusias’nya mendaki sampai puncak! wohooo…bon voyage monsieur!..

Sudah selesai, teman saya memimpin perjalanan. Berhubung dia tim SAR, dia mengajak kita melewati berbagai shortcut yang sangat “membunuh”!!! menanjaknya nggak aturan dan bleehhh… teman saya ada yang dapet jackpot alias muntah πŸ˜€ dan alhasil saya juga mulai pusing-pusing dan merasakan gejalan masuk angin.. Perjalanan masih berlanjut selama 4 jam melewati semak belukar dan hanya nampak hijau-hijau di sekitarku. Dan pastinya semakin menanjak dan menanjak.. :d sudah berapa kali aku berhenti sampai akhirnya salah satu teman saya membantu bawa backpack saya dan terus menyemangati saya dengan guyonan “sudah deket kok.. itu di depan..”.. tapi nyatanya.. masih 1 jam perjalanan lagi hahaha!

Begitu jalan mulai landai, saya melihat danau turquoise seperti warna air di Halong Bay πŸ˜€ dan itulah Ranu Kumbolo!!! akhirnya sampai jugaaa πŸ˜€

begitu sampai, hujan mulai turun dengan sangat deras dan kita memutuskan berteduh sebentar sambil menyiapkan makan siang. Sambil makan, kita yang terdiri dari 4 cewek dan 4 cowok, berundingan siapa yang masih kuat lanjut naik ke puncak Semeru mumpung ini masih setengah perjalanan. Yangg nggak kuat menetap dan berkemah di Ranu Kumbolo saja. Akhirnya 4 cewek dan 1 cowok memutuskan untuk stay di Ranu Kumbolo, dan 3 cowok lainnya lanjut naik.. hujan mulai agak reda, 3 cowok tadi segera berangkat sebelum hari terlalu malam. Karena setelah melewati pos Ranu Kumbolo, jalur pendakian katanya semakin menyesatkan dan jauh lebih berat.. Dan ada yang bilang tempatnya juga angker, jadi kalau mendengar sesuatu terus saja jalan, jangan berhenti :/ u-oh…

Alhasil semua yang stay di danau tidur, tidur, dan tidur sampai besok pagi πŸ˜€

HARI III

Paginya, kita bersantai di tepi danau menikmati hangatnya matahari pagi sambil minum kopi yumm.. mulai agak bosan, kita jalan-jalan di sekitar danau (kalau mau pipis atau beol, terpaksa ngumpet di balik semak hehe) dan persis di belakang kita ada Tanjakan Cinta πŸ™‚ katanya, kalau naik terus sambil mikirin yang kita sayang, bisa kesampean haha.. sama dengan tulisan di ratusan buku motivasi tuh πŸ˜‰ dan pas saya coba, kurangΒ 3 meter lagi ke atas, saya brenti hahahaha…

Yang lebih seru, setelah sampai di puncak Tanjakan Cinta, di baliknya ada hamparan padang rumput luaaaassss banget! kalau tidak salah ingat, namanya Cemoro Lawang ato apa ya?!?! disitu saking sepi dan luasnya, saya bergila-gilaan jerat-jerit menirukan suara binatang dan ada yang membalas :O u-oh… sepertinya itu suara burung atau lutung yang membalas saya hmmm… merasa ada teman baru mereka πŸ˜‰ hehe.. dari area ini juga sudah bisa melihat puncak Semeru yang tertutup pasir dengan lebih dekat.. Dan beberapa pendaki yang mulai turun dari Semeru juga mulai melewati padang ini..

Puas berfoto-foto, kami kembali ke kemah untuk menyiapkan makan siang sambil nunggu 3 cowok pendaki itu. Pas mereka pulang, mereka ternyata tidak nyampe ke puncak hehe mereka berhenti pas di kaki gunung Semeru. SUdah kehabisan stamina sepertinya.. Karena mendaki gunung Semeru yang berpasir itu, lebih melelahkan lagi selama 3 kilometer ke atas.. well, mungkin lain waktu kita bisa naik lagi bersama πŸ˜‰

saking sebal’nya salah satu teman saya yang tidak bisa sampai puncak, dia akhirnya nyemplung ke danau Ranu Kumbolo yang duiiingiiiiinn itu.. Dan ternyata saya tergoda untuk berkubang juga πŸ˜€ hahaha.. well, itung-itung mandi juga hahaha.. Saya tidak berani renang terlalu tengah karena tidak bisa lihat ada apa di dalam air itu :d takut ada dinosaurus hehe πŸ˜‰

Kita berkemah semalam lagi dan menghabiskan malam di api unggun, bernyanyi bersama, menikmati taburan bintang yang sanggaaaaatttt banyak! Dan berkali-kali kami menghitung beberapa satelit yang lewat, pesawat, ataupun bintang jatuh (tapi mereka tidak merasa melihatnya :d ).. suasana sangat tentram dan damai malam itu, merasakan bersatu dengan alam yang sangat “besar” dibandingkan kita ini hihi (sok philosophy!).. semkin malam semkin dingin, kita pun tidur di kemah lagi zzzz…zzzzzz

HARI IV

pagi-pagi, kita berberes peralatan kita dan sarapan kilat sebelum berjalan turun kembali ke Ranu Pani.. perjalanan dengan stamina yang lebih kuat (dan jalan yang menurun) membuat kita lebih bersemangat dan cepat hehe.. Tanpa terasa, kita melewati berbagai pos dengan cepat dan sudah sampai di Ranu Pani juga..

Kita melapor lagi ke pos pantau kalau sudah balik, berpamitan dengan bapak ibu setempat di desa Ranu Pani, akhirnya melaju balik ke Malang dengan motor.. dan pastinya dengan kondisi badan yang harus segera mandi! πŸ˜€

hmmm.. camping juga bisa jadi opsi Liburan Murah yang sangat menyenangkan dan memicu adrenalin petualangan kita! πŸ˜€

Sampai bertemu di Rinjani!!

Mount Everest Base Camp: lewat jalur Nepal atau Tibet…?

Mount Everest Base Camp

Foto waktu pergi ke Little Potala di Chengde, pengin pergi ke Potala Palace di Tibet yang asli, hehe..

Mount Everest Base Camp

Salah satu impian traveling saya yaitu naik ke Mount Everest / pegunungan Everest, tetapi bukan naik ke puncak gunung Everest seperti expedisi 7 Summit, paling cuman sampai ke First Base (Base Camp) Mount Everest saja sudah senang kok, hehehe.. πŸ™‚

Jalur Trekking Nepal:

Melewati jalur ini, kita akan trekking dari Kathmandu, menuju pegunungan Himalaya, sampai dengan Everest Base Camp. Catatan perjalanan selengkapnya pernah di sharing di kaskus oleh agan kaskuser “mahasiswa malas“. Dapat dibaca di sini:

[FR] NEPAL – ABC Trek

Beberapa alternatif tour dari Nepal:

http://www.nepalalternativetreks.com

http://www.nepalindependentguide.com

Jalur Tibet:

Naah, kalo jalur Tibet ini kelihatannya yang akan jadi pilihan saya, karena dapat sekalian mampir ke Chengdu, kalau waktu memungkinkan bisa juga mampir untuk melihat JIUZHAIGOU, HEAVEN ON EARTH yang cukup dekat dengan kota Chengdu. Untuk kemudian menuju ke Tibet naik kereta api dari Chengdu. Di Tibet, kita dapat mampir dahulu ke Lhasa dan melihat Potala Palace, tempat pemerintahan Dalai Lama.

Catatan perjalanan oleh agan kaskuser “avisss” selengkapnya dapat dilihat di sini:

FULL REPORT: TIBET

Beberapa alternatif tour dari Tibet:

http://www.traveltibetguide.com

http://www.tibettravel.com Info dari Claudia Winata, group Liburan Murah